Masa Kolonialisme, Masa Pergerakan Nasional, Persiapan Proklamasi
Masa Kolonialisme, Masa Pergerakan Nasional, Persiapan
Proklamasi
Indonesia masa kolonialisme
A. Indonesia
di Bawah VOC
Atas usul Johan
Van Oldenbarneveld dibentuklah sebuah perusahaan yang disebut Vereemigde Oost
Indische Compagnie (VOC) pada tanggal 20 Maret 1602 dan kemudian 1610 VOC
diakui Pemerintah Nederlad sebagai pemerintahan di Ambon dan diangkatlah
Gubernur Jendralnya Pieter Both sampai 1619. Tujuan pembentukan VOC tidak
lain adalah menghindarkan persaingan antar pengusaha Belanda (intern) serta
mampu menghadapi persaingan dengan bangsa lain terutama Spanyol dan Portugis
sebagai musuhnya (ekstern). Sebagai Pemerintah VOC diberi oktroi (hak-hak
istimewa) sebagai berikut :
1.
Dianggap sebagai wakil pemerintah Belanda di Asia
2. Monopoli perdagangan
3. Mencetak dang mengedarkan uang sendiri
4. Mengadakan perjanjian
5. Menaklukkan perang dengan negara lain
6. Menjalankan kekuasaan kehakiman
7. Pemungutan pajak
8. Memiliki angkatan perang sendiri
9. Mengadakan pemerintahan sendiri.
2. Monopoli perdagangan
3. Mencetak dang mengedarkan uang sendiri
4. Mengadakan perjanjian
5. Menaklukkan perang dengan negara lain
6. Menjalankan kekuasaan kehakiman
7. Pemungutan pajak
8. Memiliki angkatan perang sendiri
9. Mengadakan pemerintahan sendiri.
Untuk melaksanakan kekuasaannya di Indonesia
diangkatlan jabatan Gubernur Jenderal VOC antara lain: Pieter Both, merupakan
Gubernur Jenderal VOC pertama yang memerintah tahun 1610-1619 di Ambon.
Kemudian digantikan oleh Jan Pieterzoon Coen 1619 ) , merupakan Gubernur
Jenderal kedua yang memindahkan pusat VOC dari Ambon ke Jayakarta (Batavia).
Karena letaknya strategis di tengah-tengah Nusantara memudahkan pelayaran ke
Belanda. Adapun cara-cara yang ditempuh pemerintah VOC dalam menjalankan roda
pemerintahan antara lain :
1. Melakukan
pelayaran hongi
2. Melakukan
Ekstirpasi yaitu penebangan tanaman, milik rakyat
3. Perjanjian
dengan raja-raja setempat terutama yang kalah perang wajib menyerahkan hasil
bumi yang dibutuhkan VOC dengan harga yang ditetapkan VOC. Penyerahan wajib
disebut Verplichte Leverantien. Rakyat wajib menyerahkan hasil bumi sebagai
pajak, yang disebut dengan istilah Contingenten
Pada pertengahan abad ke 18 VOC mengalamii kemunduran karena beberapa sebab
sehingga dibubarkan. 31 Desember 1799 , hal ini disebabkan hal – hal sebagai
berikut :
1. Banyak
pegawai VOC yang curang dan korupsi
2. Banyak
pengeluaran untuk biaya peperangan contoh perang melawan Hasanuddin dari Gowa.
3. Banyaknya
gaji yang harus dibayar karena kekuasaan yang luas membutuh kan pegawai yang
banyak
4. Pembayaran
Devident ( keuntungan ) bagi pemegang saham turut memberatkan setelah pemasukan
VOC kekurangan
5. Bertambahnya
saingan dagang di Asia terutama Inggris dan Perancis. Perubahan politik
di Belanda dengan berdirinya Republik Bataaf 1795 yang demokratis dan liberal
menganjurkan perdagangan bebas.
B. Pergantian
Pemerintah dari VOC ke Hindia Belanda
Dengan dibubarkannya VOC, Indonesia diwariskan kepada pemerintah di Negeri
Belanda yg saat itu disebut Bataafsche Republik. Penguasa yang dipercaya untuk
mengurus Tanah Jajahan di Asia termasuk Indonesia adalah Raad van
Asiatische Besittingen en Establisement yang bertanggung jawab kepada
Dewan Eksekutif Rebublik. Pada tahun 1807 Jendral H.W. Daendels diangkat
menjadi Gubernur Jendral di Indonesia. Ia berusaha keras melaksanakan pemusatan
kekuasaan berdasarkan pada Korps Pangreh Praja Belanda dan Bumi Putera yg
berdisiplin. Menurut Daendels kekuasaan pejabat yg diwariskan VOC terlalu besar
sehingga mudah untuk memperkaya diri dengan cara melakukan korupsi. Pejabat yg
dinilai terlalu besar kekuasaannya antara lain adalah Gubernur Pantai Jawa
Timur Laut dan Residen yang berkedudukan di Kraton Yogyakarta dan Surakarta.
Untuk melaksanakan
maksudnya Daendels menghapus Gubernemen Pantai Jawa Timur Laut. Demikian puula
Residen yang berkedudukan di Kerajaan Jawa yang berada di bawah Gubernur
diambilalih langsung di bawah pemerintah pusat di Batavia. Daerah Jawa di luar
kerajaan Surakarta dan Yogyakarta dibagi menjadi sembilan daerah administratif
yang disebut dengan Perfectur , yang kelak pada masa pemerintahan
Raffles diubah dengan nama Karesidenan yang kemudian terkenal dengan nama Gewest .
Tiap Perfectur dikuasasi oleh se orang Perfect yang berada di bawah perintah
langsung pemerintah pusat di Batavia.
Apabila pada masa
VOC kekuasaan pemerintah daerah diserahkan kepada para Bupati maka Daendels
tidak mengikuti pola semacam ini. Daendels mengurangi banyak kekuasaan para
Bupati sehingga peran Bupati itu tidak lebih dari se orang leverancier hasil
bumi bagi kepentingan pemerintah Kolonial. Dengan demikian posisi Bupati
diturunkan menjadi pegawai pemerintah kolonial meskipun tidak memperoleh gaji.
Sebagai pegawai pemerintah Bupati ditempatkan di bawah Perfect, sedangkan gaji
bawahannya masih menjadi tanggungjawab para Bupati.
Meskipun demikian
Bupati masih diperlukan oleh Daendels. Dengan dipertahankannya sistem leveransi
dan kontingenten peran Bupati masih sangat penting yaitu sebagai penghubung
antara pemerintah dengan rakyat. Dengan dipertahankannya penguasa pribumi
sebenarnya sangat penting artinya namun Daendels tidak ingin peran penting
penguasa Bumi Putera itu terlihat secara nyata. Untuk itu Daendels melakukan
tindakan berupa pengapusan perbedaan yang ada antara Bupati yang berkedudukan
di Priangan dengan Bupati yang berkedudukan di Pantai Jawa Timur Laut seperti
pada masa VOC. Stelsel Priangan yang diciptakan VOC dipertahankan oleh Daendels
maupun oleh penguasa Inggris kemudian. Stelsel Priangan yang menjiwai Sistem
Tanam Paksa (STP) buatan Van den Bosch itu dipertahankan sampai tahun 1871.
Pembenahan yang
dilakukan Daendels dalam penyediaan mesin birokrasi adalah memperbanyak kantor
pengadilan. Tiap Perfect diangkat menjadi Ketua Land Gerecht dan
Bupati menjadi Ketua Vrijde Gerecht. Land Gerecht bertugas
mengadili perkara yang menyangkut orang Eropa dan golongan tertentu dari orang
bumi Putera sedangkan Vrijde Gerecht mengadili perkara orang pribumi. Para
Bupati juga mendapat kedudukan militer di bawah kekuasaan Perfect. Hak jabatan
yang secara tradisional para Bupati yaitu turun temurun tetap dipertanahkan.
Pembenahan untuk
pejabat di lingkungan lebih bawah dari Bupati ada yang diantaranya berada di
bawah pemerintah Pusat. Mereka diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah Pusat
bukan oleh Bupati. Bupati mempunyai kewajiban menggaji pegawai yaitu para kepala
Wilayah yang ada di bawah kekuasaannya. Secara tradisional Bupati memperoleh
sepersepuluh dari hasil panen dan memperoleh tenaga tanpa dibayar dari penduduk
yang ada diwilayah kekuasaannya. Daendels mengurangi hak Bupati untuk
memperoleh sepersepuluh hasil bumi atau hak pancen dan hak memperoleh tenaga
tanpa upah. Bagi petani pengurangan penyerahan pancen dan kerja wajib itu boleh
jadi tidak penting namun bagi Bupati hal itu sangat penting karena menyangkut
status simbol sebagai seorang penguasa tradisional.
Pembenahan yang
dilakukan itu menyangkut hubungan antara Bupati dengan Pemerintah Belanda.
Karena pembenahan itu tidak ada sangkut pautnya dengan perikehidupan rakyat
maka rakyat pada umumnya tidak mengetahui perubahan tersebut. Daendels ternyata
mengikuti kebijakan yang telah dirintis oleh VOC. Hal itu tampak jelas jika
dicermati perubahan yang dia lakukan setelah pemerintahan VOC serta
membandingkan dengan teori politikyang dianutnya dengan praktek yang ia
lakukan.
Reformasi atau
pembenahan yang dilakukan Daendels yang lain adalah misalnya ia berusaha keras
memberantas kecurangan di kalangan pejabat negara. Justru langkah inilah yang
membuat ia mempunyai banyak musuh dari kalangan bangsa Belanda sendiri.
Disamping politik keuangannya tidak menguntungkan pemerintah beberapa
tindakannya dinilai sebagai menguntungkan diri sendiri. Lawan politik Daendels
yang terkenal antara lain adalah M.R.G. van Polanen dan Nicolaas Engelhard,
Gubernur Pantai Jawa Timur Laut yang dilepas oleh Daendels. Untuk membersihkan
dirinya dari tuduhan musuh politiknya Daendels menerbitkan buku berjudulStaat
der Nederlandsch Oost-Indische bezittingen onder het bestuur van den Gouverneur
Generaal H.W. Daendels pada 1814. Buku tersebut dikritik dengan tajam
oleh van Polanen dan Engelhard.
Di samping itu
Daendels juga tidak disukai di kalangan pejabat Bumi Putera. Para bangsawan
banyak yang kecewa karena kebijakannnya yang merugikan mereka. Pada 1810 Kaisar
Napoleon mengeluarkan Dekrit yang menyatakan Negeri Belanda masuk ke dalam Imperium
Prancis. Setahun kemudian berita itu sampai ke Indonesia dan disambut dengan
senang hati olh Daendels. Karena ia yakin bahwa hal itu akan membawa perbaikan
bagi Indonesia. Semua pegawai bersumpah setia kepada Kaisar Napoleon. Pada 1811
Daendels diberhentikan oleh Kaisar Napoleon. Perberhentian itu rupanya bukan
karena Kaisar Napoleon yakin akan kesalahan Daendels tetapi karena desakan
lawan-lawan Daendels yang sangat keras.
C. Politik
Kolonial Masa Transisi
1. Masa
Pemerintahan Herman Willem Daendels (1808-1811)
Herman William
Daendels memulai jabatan sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat dia
menapak Pulau Jawa, tanggal 1 Januari 1808 dengan menumpang kapal Virginia.
Perjalanan panjang ditempuh Daendels dari Eropa menuju Jawa mengingat kala itu
lautan sudah dikuasai angkatan laut Kerajaan Inggris yang maha kuasa semasa
Perang Napoleon berkecamuk di Eropa, Afrika dan Asia. Sejarawan Djoko
Marihandono yang mengadakan penelitian tentang Daendels dan Hindia Belanda di
bawah kekuasaan Prancis menjelaskan, dalam diskusi terbatas di Harian Kompas,
betapa Daendels harus kucing-kucingan untuk menempuh perjalanan berbahaya dari
Eropa tanggal 18 Februari 1807. Dia sempat menghadap Napoleon Bonaparte di
Paris untuk menyampaikan usulan kebijakan yang akan diterapkan di Hindia Timur
(Nusantara). Kala itu, Belanda yang beralih sistem menjadi Republik Bataaf
(1795-1806) kemudian diduduki Prancis yang menetapkan Louis Napoleon (orang
Belanda menyebut sebagai Lodewijk Napoleon-red) untuk memimpin Belanda sebagai
wilayah Prancis. Daendels mendapat promosi kenaikan pangkat dari Kolonel
Jenderal menjadi Marsekal, kata Djoko.Daendels memiliki kewenangan luas yakni
dari Tanjung Harapan di Afrika Selatan hingga ke Hindia Timur (Nusantara-red ).
Namun, pada kenyataan, kala itu-tahun 1808- kekuasaan Napoleon di Afrika
Selatan dan Nusantara hanya tersisa di Pulau Jawa.Perjalanan Daendels memakan
waktu 10 bulan. Dia pergi ke pelabuhan Bordeaux, tetapi laut sudah diblokade
Inggris sehingga harus mencari alternatif ke Lisabon di Portugal. Lagi-lagi dia
menghadapi kondisi serupa yakni blokade laut Inggris.Pramoedya Ananta Toer
mencatat dalam Jalan Pos Jalan Daendels, betapa Daendels harus menyaru dan
memalsukan identitas agar dapat meloloskan diri dari Eropa menuju Jawa.Akhirnya
Daendels meninggalkan Portugal dan tiba di Maroko. Ketika itu, Maroko baru saja
menyetujui perjanjian damai dengan Eropa untuk mengakhiri perdagangan budak
bangsa Eropa (Giles Milton, White Gold). Salah satu panglima angkatan laut Inggris
yang memaksa penguasa Maroko dan Aljazair mengakhiri perbudakan bangsa kulit
putih adalah Laksamana Thomas Pellew yang juga pernah memblokade Batavia dan
membombardir Pulau Onrust (catatan dalam White Gold dan pameran VOC di Erasmus
Huis, 2008).Di Maroko, Daendels sempat dirampok bajak laut sehingga kehilangan
semua dokumen. Dia meloloskan diri ke Kepulauan Kanari di lepas pantai barat
Afrika-kini wilayah Spanyol-untuk mencari kapal ke Asia. Djoko mencatat, di
Pulau Kanari, Daendels berhasil menyewa kapal Amerika, Virginia yang
mengantarnya menyelinap ke Pulau Jawa.
2. Masa
Pemerintahan Raffles ( 1811-1816)
a. Biografi Raffles
Thomas Stamford Raffles adalah seorang yang kurang mempunyai karakter hebat,
tapi cukup bijaksana untuk lebih memelih reputasi dalam sejarah daripada
penghasilan material sesaat (Vlekke, 2008). Bernama lengkap Thomas Stamford
Bringley Raffles ini lahir 6 Juli 1781 berkewarganegaraan Inggris. Ia adalah
seorang Gubernur Jenderal Hindia-Belanda yang terbesar. Ia juga dikatakan
pendiri kota dan Negara kota Singapura. Ayahnya adalah seorang kapten bernama
Benjamin Raffles dan Ibunya adalah Anne Lyde Linderman, namun akibat terhimpit
krisis ekonomi dan terjerat kasus dalam perdagangan budak di kepulauan Karibia
mengakibatkan ayahnya meninggal saat Raffles berusia 15 tahun. Saat itu juga ia
mulai bekerja sebagai pegawai di London untuk perusahan Hindia Timur Britania
yang banyak berperan dalam penaklukan Inggris di luar Negeri (id.wikipedia.org)
dan diangkat ke posisi agen perusahaan di Pulau Penang pada 1805. Di sini dia
memulai studinya atas bahasa, adat istiadat, dan sejarah Melayu. Bermula
menjadi palayan humaniter utama kemudian menciptakan lewat tulisannya, suatu
legenda histori mengenai administrasinya di Jawa dan akhirnya dengan suatu
kebijakan ekspansi yang berani sehingga membuat dia mencapai keberhasilan
terbesarnya yaitu pendirian Singapura.
Dia menulis begitu
baik dalam bentuk yang sangat menarik, sehingga selama seabad setelah
kematiannya orang menilai Raffles lebih berdasarkan kata-katanya dari pada
perbuatannya. Dari sinilah ia dinilai lebih unggul dari pada para
pendahulu-pendahulunya dalam administrasi kolonial. Dari gabungan ambisi
membara dan kecerdasan brilian tersebut, membuat Raffles orang yang tepat untuk
menjalankan rencana Lord Minto untuk Indonesia. Kala waktu itu untuk menyerang
dan menghancurkan kekuatan Belanda di Indonesia (Vlekke, 2008).
Keberhasilan
Inggris dalam ekspansinya ini membawa nama Raffles menjadi semakin dikenal dan
yang tidak kalah pentingnya adalah melejitnya karir Raffles yang semakin tinggi
di usianya yang masih muda. Itu disebabkan karena pemerintah Inggris
mempercayakan semua kendali di nusantara kepadanya. Sehingga di tunjuklah
Raffles sebagai Letnan Gubernur oleh Lord Minto sebelum kembali ke Kalkuta
(Vlekke, 2008). Dia menjadi Jenderal Gubernur di Jawa pada tahun 1811-1816.
Selama di Jawa dalam menjalankan tugasnya, nampaknya Raffles juga memiliki
keterkaitan erat dengan orang Jawa, bahkan ia lebih suka dengan orang Jawa dari
pada dengan orang Belanda. Sebab orang Jawa tidak memiliki sifat amuk (chaos). Selain itu Raffles juga menyimpan besar
perhatiannya pada budaya dan sastra Jawa, karena ketertarikanya tersebut ia
mengembangkan Museum Ethnografi Batavia, yang sampai saat ini masih berdiri
megah. Sebelumnya Belanda telah mendirikan lembaga kebudayaan yang bernama
Koninklijk Bataviaasch Genootschap. Lembaga ini yang memelopori pendirian
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (1778) dan Museum Gajah (1862) yang
kesemuanya berada di Jakarta. Pada 1814, Thomas Stamford Raffles mendengar
berita adanya penemuan benda purbakala di sekitar Magelang, Jawa Tengah.
Raffles kemudian mengutus H.C. Cornelius untuk menyelidiki lokasi penemuan
berupa bukit yang dipenuhi semak belukar. Ia memerintahkan agar “bukit ilalang”
itu dibersihkan, sehingga tampaklah sebuah candi raksasa yang dipenuhi patung
Buddha Mahayana. orang. Raffles juga bercerita tentang keberadaan Candi
Penataran yang berlokasi di sebelah utara Blitar (Jawa Timur). Raffles
menemukan candi ini pada 1815 bersama seorang naturalis dan ahli kedokteran
berkebangsaan Amerika, ialah Thomas Walker Horsfield. Raffles kembali ke London
(1815) karena mengidap penyakit tropis yang cukup parah, serta kesedihannya
yang sangat dalam atas meninggalnya istrinya pada 26 November 1814 karena
penyakit malaria (Raffles, 2008) dan dimakamkan di Batavia tepatnya yang
sekarang menjadi Museum Prasasti. Di kebun raya Bogor juga dibangun monument
peringatan untuk mengenang kematian sang isteri (id.wikipedia.org).
Pada tahun 1818,
Thomas Stamford Raffles kembali ke timur dan di promosikan menjadi gubernur
Bengkulu. Disana banyak yang telah dilakukan yaitu mengagas proyek benama
Singapore, mendirikan benteng, dan Ia juga dikenal sebagai pecinta lingkungan
yang penuh gairah di bidang boilogi. Banyak sederetan nama binatang dan
tumbuhan telah dinamai dengan menggunakan namanya (Raffles, 2008). Salah satu
tumbuhan yang paling terkenal adalah benama Rafflesia Arnoldii, sejenis
tumbuhan parasit di pohon Palem, merupakan hasil penemuan Raffles di sekitar
Bengkulu (Sumatra). Tanaman ini merupakan endemic di Asia Tenggara dan memiliki
kelopak bunga terbesar serta paling spektakuler di dunia. Sekembalinya ke
London Thomas Stamford Raffles mendirikan London Zoo dan Zoological Society of
London yang sampai saat ini masih terkenal. Ia pun menjadi presiden pertama
dalam lembaga ilmiah ini. Dari sinilah Raffles menghabiskan masa hidupnya yaitu
di Kota dan Negara asalnya. Seorang anak yang tengah menjelma menjadi seorang
figure dan menjadi seorang tokoh cerdas, bijaksana serta peduli terhadap sesama
telah menyatu semua dalam diri raffles. Menurut catatan Sophia Malkasian,
mahasiswa pascasarjana pada Southeast Asia Studies Program, Ohio University,
Amerika Serikat mengatakan Raffles dianggap sebagai salah seorang pelopor
kajian Jawa, serta bukunya menjadi sumber gagasan Barat mengenai daerah
tersebut, dan sebagai titik awal pengkajian wilayah Timur.
Perjuangan telah
dilakukan demi keluarga dan negaranya mulai dari masa remaja hingga menutup
mata. Banyak sumber yang mengatakan bahwa Thomas Stamford Raffles meninggal
dunia sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-45 (5 July 1826), atau hanya dua
tahun sekembalinya dari Hindia-Timur, karena menderita apoplexy atau Stroke (Raffles, 2008). Karena pendirianya yang
menentang perbudakan, keluarganya tidak diizinkan mengebumikannya di halaman
gereja setempat (St.Mary’s, Hendon). Larangan ini dikeluarkan pendeta gereja
itu, yang keluarganya memetik keuntungan dari perdagangan budak. Ketika gereja
itu diperluas pada 1920-an, kuburannya dimasukkan ke dalam bagian bangunannya.
b. Masa Kepemimpinan Raffles di Nusantara
Sejak tahun 1800,
blokade Inggris terhadap Belanda semakin memuncak. Kedudukan-kedudukan Belanda
yang ada di luar Jawa (hanya Ambon yang agak kuat) diserang Inggris.
Demikianlah Ambon, Gorontalo, Banda, Ternate, praktis dapat dikuasainya. Tidak
dengan Jawa, rupanya pertahanan masih kuat dan memerlukan perhitungan militer
yang lebih serius. Tetapi keputusan itu belum diambil oleh pucuk pimpinan
Inggris di India. Walaupun demikian, persiapan untuk menyerang Jawa telah
dilakukan sejak masa-masa sebelumnya (Dekker, 1993).
Pada tahun 1808
mulai berlangsung suatu zaman baru dalam hubungan Jawa-Eropa. Negeri Belanda
telah berada di bawah kekuasaan Perancis sejak tahun 1795. Sehubungan dengan
sentralisasi kekuasaan yang semakin besar, maka Napoleon Bonaperte mengangkat
adiknya, Louis Napoleon sebagai penguasa di negeri Belanda pada tahun 1806.
Pada tahun 1808, Louis mengirim Marsekal Herman Willem Daendels ke Batavia
untuk menjadi Gubernur jenderal (1808-1811) dan untuk memperkuat pertahanan
Jawa sebagai basis melawan Inggris di Samudera Hindia. Dalam perjalanannya
Daendels tidak membawa pasukan baru bersamanya bahkan memakai bendera Amerika
untuk menghindari serangan atau hadangan Inggris di India. Dengan tidak adanya
pasukan yang dibawa dia segera membentuk pasukan yang terdiri dari sebagian
besar terdiri atas orang-orang Indonesia, berjumlah dari 4000 menjadi 18000
orang (Ricklefs, 2005).
Tekanan blockade
Inggris yang berat terhadap Belanda melumpuhkan export kopi yang merupakan
salah satu sumber penghasilan yang besar. Suasana ekonomi di bawah Daendels
yang bersifat revolusioner dan diktaktor ini rusak. Di samping itu kebencian
terhadapnya datang dari semua golongan termasuk orang-orang Eropa sendiri.
Maksudnya memberantas penyelewengan dan korupsi yang menyelimuti administrasi
Eropa banyak mengalami kegagalan (Ricklefs, 2005). Salah satu contoh tindakan
Daendels yang hanya menghasilkan kebencian adalah sebagai berikut, seperti
disebutkan di atas, bahwa Ambon masih dipertahankan oleh Belanda dalam ukuran
kecil. Di sana ditempatkan seorang colonel Perancis yang bernama Filz. Akibat
serangan Inggris itu Filz menyerah. Dia dibebaskan oleh Inggris dan kemudian
pergi ke Batavia untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Hasilnya malahan
colonel yang malang itu dimarahinya dan kemudian dijatuhi hukuman mati (dengan
jalan ditembak), itu merupakan perbuatan yang tidak bertanggung jawab yang dilakukan
oleh seorang pemimpin seperti Daendels. Adapun perlawanan diberbagai tempat
terhadap Daendels yang serba keras dari bangsa Indonesia antara lain ialah
Banten, Cirebon, dan Yogyakarta (Dekker, 1993).
Pada 1811, Thomas
Stamford Raffles disertakan dalam rombongan ekspedisi ke tanah Jawa sebagai
Letnan Gubernur di bawah perintah Gubernur Jenderal (di India) Sir Gilbert
Elliot Murray-Kynyn-mond atau yang lebih dikenal dengan nama Lord Minto, hingga
1817. Lord Minto menyukai Raffles karena kecerdikanya, keterampilan, dan
kemampuannya dalam berbahasa Melayu, sehingga ia dikirim ke Malaka. Tidak lama
setelah tiba di tanah Jawa pasca Perancis menguasai Kerajaan Belanda, Raffles
mengatur ekspedisi melawan militer Belanda di Jawa. Penyerbuan itu dipimpin oleh
Admiral Robert Stopford, Jenderal Watherhall, Kolonel Gillespie2 (Raffles, 2008) dan
disamping itu ikut juga Jenderal Auchmuty3 dimana Kapitulasi Tuntang adalah pertanda yang
secara resmi mengakhiri riwayat Belanda-Perancis di Indonesia. Berikut mengenai
isi dari Kapitulasi Tuntang yang di tanda tangani oleh Auchmuty dari pihak
Inggris dan Janssen dari pihak Belanda, pada tanggal 18 September 1811 :
1.
Seluruh Jawa diserahkan kepada Inggris
2.
Semua serdadu menjadi tawanan dan semua pegawai yang mau kerja sama dengan
Inggris, dapat memegang jabatan terus
3.
Semua hutang-piutang pemerintah belanda yang dulu, tidak akan ditanggung oleh
Inggris.
Seminggu sebelum
Kapitulasi Tuntang, Raffles telah diangkat sebagai Letnan Gubernur Jenderal
namun pusat kendali tetap berada di Calcuta (Dekker, 1993). Dalam hal yang
seperti ini masih ada juga perbedaan dalam penilaian terhadap Belanda antara
Lord Minto dengan Raffles. Munculnya dua aliran ini sangat berbeda jauh yaitu
aliran Lord Minto yang bersikap lunak dan terbuka terhadap Belanda yang telah
kalah dan mau mempergunakan bangunan dan tenaga mereka kembali asalkan setia
kepada Inggris, dan aliran Raffles yang bersifat membenci terhadap apa saja
yang berbau Belanda yang dianggapnya sebagai kolot dan kejam.
Setelah takhluknya
Belanda dari tangan Inggris, kepulauan Indonesia sepenuhnya berada di bawah
control perusahaan Hindia Timur Inggris dan dibagi dalam empat unit
administratif yaitu pemerintahan Malaka, Bengkulu, Jawa, Maluku. Dengan
perubahan administratif ini Maluku sangat beruntung karena monopoli tidak
dihapus melainkan ditetapkan dengan lebih longgar, sebab Perusahaan Hindia
Timur Inggris tidak mempunyai kepentingan financial untuk menjaga ketat sistem
itu seperti Belanda (Vlekke, 2008). Apabila dilihat sebagai kesatuan revolusi
Daendels dan Raffles sama-sama tokoh yang paling penting bagi sejarah Indonesia
yaitu sebagai pencetus revolusi penjajahan, suatu kebijakan baru yang menuntut
pelaksanaan kedaulatan dan kekuasaan administrasi Eropa di seluruh pemerintahan
Jawa yang tujuannya memanfaatkan, memperbaharui, atau menghancurkan
lembaga-lembaga asli semuanya (Rickefs, 2005). Pemerintahan langsung rakyat
oleh pejabat pemerintah yang digaji harus menggantikan pemerintahan tidak
langsung lewat perantara kepala-kepala daerah herediter (Vlekke, 2008).
Thomas Stamford
Raffles pernah menjadi Gubernur Jenderal pada masa yang sangat singkat di Jawa
yaitu mulai tahun 1811 sampai dengan 1816. Selama kepemimipinannya, Raffles
mengubah sistem tanam paksa (culture stelsel)
yang diberlakukan colonial Belanda, yaitu sistem kepemilikan tanah yang
kemungkinan besar dipengaruhi oleh tulisan awal Dirk van Hogendorp, dengan
kebijakan landrente4. Prinsip yang
digunakannya berdasarkan pada teori liberalisme, seperti yang dipraktikkan
Inggris di India. Seperti dalam bidang perekonomian dan keuangan Raffles
menetapkan bahwa :
·
semua tanah adalah milik Negara, dan rakyat sebagai pemakai (penggarap) tanah
wajib membayar sewa (berupa pajak bumi) kepada pemerintah.
·
Pemimpin pribumi seperti sultan dan bupati yang tidak taat pada peraturan landrente, akan dipecat.
·
Meneruskan usaha yang dilakukan Belanda misalnya penjualan tanah kepada swasta,
serta penanaman kopi, melaksanakan penanaman bebas yang melibatkan rakyat dalam
perdagangan.
·
Memonopoli garam agar tidak dipermainkan dalm perdagangan karena sangat penting
bagi rakyat.
·
Menghapus segala penyerahan wajib dan kerja rodi.
·
Dia juga mengubah sistem berkendara di koloni Belanda menjadi sistem berkendara
seperti di Inggris yaitu memakai jalur kiri yang berlaku dan dipakai sampai
saat ini (Gus Anam’s, 2010 blog)
Selain menerapkan
kebijakan landrente, dalam bidang
pemerintahan Thomas Stamford Raffles juga menerapkan kebijakannya melalui :
·
Membagi tanah Jawa ke dalam 16 karesidenan
·
Mengurangi jabatan bupati yang berkuasa (Raffles, 2008)
·
Mengangkat Bupati menjadi pegawai negeri yang digaji
·
Mempraktekkan sistem yuri dalam pengadialn seperti di Inggris
·
Melarang adanya perbudakan, membangun pusat pemerintahan di Istana Bogor (Gus
Anam’s, 2010 blog)
·
Kesultanan Banten dihapuskan, kedaulatan kesultanan Cirebon harus diserahkan
kepada colonial Inggris (Raffles, 2008).
Disamping kebijakan-kebijakan yang telah disebutkan, Raffles juga seoarang
sarjana yang tertarik dalam Sejarah dan keadaan alam Indonesia. Yaitu dengan
membangun gedung Harmoni di jalan Majapahit Jakarta untuk lembaga pengetahuan
yang berdiri sejak tahun 1778 yang bernama Bataviaasch Genootschap Pada 13
agustus 1814 diberlakukan konvensi London yang memuat bahwa seluruh wilayah
yang pernah dikuasai Belanda harus dikembalikan kepada pihak Inggris tetapi
tidak berlaku atas Bangka, Belitung, dan Bengkulu. Sebenarnya Raffles tidak
menerima hal ini karena kekayaan Hindia-Belanda sanagat menguntungkan pihak
Inggris, naumun ia terpaksa menandatanganinya yang merupakan bagian dari
penyusunan kembali secara menyeluruh urusan-urusan Eropa setelah perang-perang
Napoleon. Raffles akhirnya ditarik kembali ke Inggrisdan digantikan oleh John
Fendall yang melaksanakan keputusan konvensi London sekaligus serah terimanya.
Tahun 1818 Raffles kembali ke timur untuk Jabatan barunya yaitu menjadi
Gubernur Bengkulu. Setelah setahun pemerintahannya ia menggagas proyek bernama
Singapore. Proyek mercusuar ini adalah pelampiasan dari rasa kekecewaannya
karena penyerahan tanah Jawa kepada Belanda. Diapun akhirnya terkenal sekali
sebagai pendiri Singapura. Sebelum kepulangannya ke London, di Bengkulu Raffles
mendirikan benteng Inggris paling besar kedua di Asia Pasifik, setelah benteng
utamanya di India. Dari pendirian benteng yang permanen, kokoh dan multifungsi
itu dapat dipastikan kalau Raffles memiliki cita-cita di kawasan ini. Karena parahnya
gejolak politik yang mendera Eropa pada tahun 1823 ia terpaksa untuk
meninggalkan Sumatra. Namun Raffles sempat mewujudkan obsesinya di Singapura
dan dalam proyek botani dan satwa Hindia Timur, terutama di pulau Sumatra.
Tonggak imperalis Inggris ini menggagas pendirian Raffles Museum di Singapura.
Misinya adalah mencatat dan mendokumentasikan binatang dan tanaman khas yang
terdapat di pulau Jawa dan Sumatra (Raffles, 2008). Salah satunya adalah jenis
tanaman bunga sekaligus nama Raffles diabadikan sebagai nama bunga itu,
yaitu Rafflesia Arnoldii (Gus Anam’s 2010 blog). Karena peran besar Raffles, di Simgapura
akhirnya diabadikan dengan bentuk patung atau monumuen Raffles untuk mengenang
tokoh besar itu.
Berakhirnya pemerintahan Raffles karena kondisi eropa sudah tidak mendukung.
Kedudukan Napoleon telah goyah, dan Belanda telah bangkit untuk melawan
Perancis. Ujungnya terselesaikan pada 1824 yang disepakati di London. Britania
berjanji tidak akan lagi campur tangan di Sumatra atau pulau-pulau lain di
kepalauan Indonesia. Begitu juga orang Belanda berjanji menghormati kemerdekaan
Aceh, tapi sekaligus bertekad melindungi pelayaran di sekitar ujung utara
Sumatra dari perompak-perompak Aceh. Perjanjian 1824 mengakhiri kekuasaan
Britania atas Bengkulu (Vlekke, 2008). Hingga akhirnya Nusantara kembali di
bawah kekuasaan Belanda yang dengan sistimatik menguras serta mengkulikan
penduduk Nusantara seperti yang dilakukanya sebelum Inggris datang.
D. Politik
Kolonial Konservativ: Sistem Tanam Paksa
Pada tahun 1830
pada saat pemerintah penjajah hampir bangkrut setelah terlibat perang Jawa
terbesar (Perang Diponegoro 1825-1830), dan Perang Paderi di Sumatera Barat
(1821-1837), ongkos imperialisme Belanda secara semena-mena diletakkan di atas
pundak Jawa-Madura melalui Cultuurstelsel atau
Sistem Tanam Paksa antara 1830-1870. Gubernur Jendral Van den Bosch mendapat izin khusus melaksanakan
sistem Tanam Paksa (Cultuur Stelsel) dengan tujuan utama mengisi kas
pemerintahan jajahan yang kosong, atau menutup defisit anggaran pemerintah
penjajahan yang besar. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam
dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara
yang sangat dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada jaman VOC wajib menjual komoditi
tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya
pada harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Maka tidak ada perkembangan yang
bebas dari sistem pasar.
Sistem tanam paksa diperkenalkan secara perlahan sejak tahun 1830 sampai tahun
1835. Menjelang tahun 1840 sistem ini telah sepenuhnya berjalan di Jawa. Cultuurstelsel (atau secara kurang tepat
diterjemahkan sebagai Tanam Paksa) adalah peraturan yang dikeluarkan oleh
Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch yang mewajibkan setiap desa
menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya
kopi, tebu, dan tarum (nila). Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah
kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada
pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75
hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam
pajak.
Sistem tanam paksa berangkat dari asumsi bahwa desa-desa di Jawa berutang sewa
tanah kepada pemerintah, yang biasanya diperhitungkan senilai 40% dari hasil
panen utama desa yang bersangkutan. Van den Bosch ingin setiap desa menyisihkan
sebagian tanahnya untuk ditanam komoditi ekspor ke Eropa (kopi, tebu, dan
nila). Penduduk dipaksa untuk menggunakan sebagian tanah garapan (minimal
seperlima luas, 20%) dan menyisihkan sebagian hari kerja untuk bekerja bagi
pemerintah.
Dengan mengikuti tanam paksa, desa akan mampu melunasi utang pajak tanahnya.
Bila pendapatan desa dari penjualan komoditi ekspor itu lebih banyak daripada
pajak tanah yang mesti dibayar, desa itu akan menerima kelebihannya. Jika
kurang, desa tersebut mesti membayar kekurangan tadi dari sumber-sumber lain.
Pemerintah kolonial memobilisasi lahan pertanian, kerbau, sapi, dan tenaga
kerja yang serba gratis. Komoditas kopi, teh, tembakau, tebu, yang
permintaannya di pasar dunia sedang membubung, dibudidayakan.
Bagi pemerintah
kolonial Hindia Belanda, sistem ini berhasil luar biasa. Karena antara 1831-1871
Batavia tidak hanya bisa membangun sendiri, melainkan punya hasil bersih 823
juta gulden untuk kas di Kerajaan Belanda. Umumnya, lebih dari 30 persen
anggaran belanja kerajaan berasal kiriman dari Batavia. Pada 1860-an, 72%
penerimaan Kerajaan Belanda disumbang dari Oost Indische atau Hindia Belanda.
Langsung atau tidak langsung, Batavia menjadi sumber modal. Misalnya, membiayai
kereta api nasional Belanda yang serba mewah. Kas kerajaan Belanda pun
mengalami surplus.
Badan operasi sistem tanam paksa Nederlandsche Handel Maatchappij (NHM)
merupakan reinkarnasi VOC yang telah bangkrut. Untuk mendorong keberhasilan
sistem ini di tiap wilayah desa, kepala desa juga mendapatkan komisi atau
persentase dari hasil cultuurstelsel (tanam paksa) ini. Sistem ini tidak
diberlakukan pada desa-desa perdikan (desa bebas pajak) karena kewajiban khusus
dari kekuasaan feodal seperti mengurus makam dan memelihara pesantren.
Beberapa perubahan sosial yang terjadi akibat sistem tanam paksa yang ditemukan
oleh Onghokham (Tjondronegoro dan Wiradi (peny):1984)
Edi Cahyono (1991) dan Rajagukguk (1995) adalah: Pertama, pengambil alihan tanah penduduk menjadi
kepemilikan desa telah melahirkan petani rumah tangga dengan kepemilikan tanah
pertanian yang kecil. Para petani kecil ini masih dibebani dengan kerja
tambahan tersebut sehingga tidak dapat mengembangkan diri meski mempunyai tanah
garapan yang dapat mereka wariskan kepada keturunan mereka. Kedua, kewajiban-kewajiban kerja dan kewajiban
penanaman tersebut telah mendorong kelahiran penduduk yang cepat di kalangan
petani untuk menurunkan beban kerja keluarga. Ketiga, sementara
itu, secara politik sistem ini juga telah menghidupkan pemerintahan Desa
menjadi struktur pemerintahan efektif mengontrol administrasi kewilayahan dan
penduduk. Sistem ini juga menjadikan kepemimpinan di wilayah Jawa menjadi
sangat otoriter. Keempat, Masyarakat petani mulai
memanfaatkan lahan pekarangan rumah untuk bertahan hidup dengan mempekerjakan
perempuan dan anak-anak mereka. Lahan pekarangan secara teori memang tidak
dihitung pajaknya. Kelima, Sistem tanam
paksa telah menutup peranan ekonomi kalangan swasta untuk tumbuh dan berperan
baik dari kalangan priayi, tionghoa, arab maupun golongan pengusaha Belanda
sendiri. Keenam, Tanam paksa juga telah melahirkan pengistilahan
baru dalam lapisan-lapisan di masyarakat petani. Istilah-istilah kuli kenceng
(kewajiban penuh kerja bakti), kuli setengah kenceng (tidak bertanggung jawa
penuh) telah menggantikan istilah numpang dan sikep. Sebab, semua pemilik tanah
wajib menjalankan kerja bakti di tanah-tanah cultuurstelsel. Dengan demikian tanam paksa telah mentransformasi beberapa
penduduk menjadi kuli/buruh (Prisma:1991) .
Tanam paksa adalah era paling eksploatatif dalam praktek ekonomi Hindia
Belanda. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem
monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat
dibutuhkan pemerintah. Petani yang pada jaman VOC wajib menjual komoditi
tertentu pada VOC, kini harus menanam tanaman tertentu dan sekaligus menjualnya
dengan harga yang ditetapkan kepada pemerintah. Aset tanam paksa inilah yang
memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal
Hindia-Belanda pada 1835 hingga 1940.
Akibat tanam paksa ini, produksi beras semakin berkurang, dan harganya pun melambung. Pada tahun 1843, muncul bencana kelaparan di Cirebon, Jawa Barat. Kelaparan juga melanda Jawa Tengah, tahun 1850.
Akibat tanam paksa ini, produksi beras semakin berkurang, dan harganya pun melambung. Pada tahun 1843, muncul bencana kelaparan di Cirebon, Jawa Barat. Kelaparan juga melanda Jawa Tengah, tahun 1850.
Sistem tanam paksa yang kejam ini, setelah mendapat protes keras dari berbagai
kalangan di Belanda, akhirnya dihapus pada tahun 1870, meskipun untuk tanaman
kopi di luar Jawa masih terus berlangsung sampai 1915. Program yang dijalankan
untuk menggantinya adalah sistem sewa tanah dalam UU Agraria 1870.
E. Politik
Kolonial Liberal : Ekonomi Swasta
Periode sejarah Indonesia 1870 – 1900 sering disebut sebagai masa liberalimse.
Pada periode ini kaum pengusaha dan modal swasta diberikan peluang sepenuhnya
untuk menanamkan modalnya dalam berbagai usaha kegiatan di Indonesia terutama
dalam industri – industri perkebunan besar baik jawa maupun daerah – daerah
luar jawa. Selam amsa liberalisme ini modal swasta dari Belanda dan negara –
negara Eropa lainnya telah berhasil mendirikan berbagai perkebunan kopi, teh,
gula dan kina yang besar di Deli, Sumatera Timur.
Pada tahun 1870 dikeluarkan Undang – Undang Agraria, yang bertujuan untuk
melindungi petani – petani Indonesia terhadap kehilangan hak milik atas tanah
mereka terhadap irang – orang asing. Sejak tahun ini industri – industri
perkebunan Eropa mulai masuk ke Indonesia. Terdapat perbedaan antara tanam
paksa (culturestelsel) dengan industri – industri perkebunan swasta pada
masa liberal yaitu terlatak pada bahwa dalam msa industri perkebunan liberal
rakyat Indonesia bebasdalam menggunakan tenaganya dan tanahnya,
sedang dalam tanam paksa kedua alat produksi itu dimiliki dan dikuasai oleh
pemerintah. Seiring berkembangnya dunia pertumbuhan industri Indonesia juga
berkembang dengan adanya terussan Suez pada tahun 1869 yasng memperpendek jarak
antara Eropa dengan Asia.
Zaman liberal mengakibatkan ekonomi uang masuk dalam kehidupan masyarakat
Indonesia terutama Jawa. Penduduk pribumi mulai menyewakan tanah – tanahnya
kepada perusahaan – perusahaan swasta Belanda untuk dijadikan perkebunan –
perkebunan besar. Masuknya pengaruh ekonomi Barat juga melalui impor barang –
barang dari negeri Belanda. Hilangnya matapencaharian penduduk di sector
tradisional mendorong lebih jauh pengaruh system ekonomi uang, karena memaksa
penduduk untuk mencari pekerjaan pada perkebunan – perkebunan besar milik orang
Belanda atau orang Eropa lainnya. Lapangan kerja baru yang tumbuh seiring
dengan berkembangnya industri – industri perkebunan besar di Indonesia adalah
perdagangan perantara.
Perkembangan
Ekonomi Hindia – Belanda
Kaum liberal
berharap bahwa dengan dibebaskannya kehidupan ekonomi dari segala campur tangan
pemerintah serta penghapusan segala unsure paksaan dari kehidupan ekonomi akan
mendorong perkembangan ekonomi Hindia Belanda. Dengan Undang – undang Agraria
1870 para pengusaha Belanda dan Eropa dapat menyewa tanah dari pemerintah atau
penduduk Jawa untuk membuka perkebunan – perkebunan besar.
Setelah tahun 1885
perkembangan tanaman perdagangan mulai berjalan lamban dasn terhambat, karena
jatuhnya harga – harga gula dan kopi di pasaran dunia. Dalam tahun 1891 harga
tembakau turun drastis, sehingga membahayakan perkebunan – perkebunan tembakau
di Deli, Sumatera Timur. Krisis tahun 1885 mengakibatkan terjadinya
reorganisasi dalam kehidupan ekonomi Hindia – Belanda. Perkebunan – perkebunan
besar tidak lagi sebagai usaha milik perseorangan, tetapi direorganisasi
sebagai perseroan – perseroan terbatas. Pimpinan perkebunan bukan lagi
pemiliknya secara langsung, tetapi oleh seorang manager, artinya seorang
pegawai yang digaji dan langsung bertanggungjawab kepada direksi perkebunan
yang biasa dipilih dan diangkat oleh pemilik saham.
Merosotnya
Kesejahteraan Rakyat Indonesia
Krisis perdagangan
tahun 1885 juga mempersempit penghasilan penduduk jawa, baik uang berupa upah
bagi pekerjaan di perkebunan – perkebunan maupun yang berupa sewa tanah.
Politik kolonial baru yaitu kolonial – liberal, semakin membuat rakyat menjadi
miskin. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor :
1. Kemakmuran
rakyat ditentukan oleh perbandingan antara jumlah penduduk dan faktor – faktor
produksi lainnya seperti tanah dan modal.
2. Tingkat
kemajuan rakyat belum begitu tinggi, akibatnya mereka menjadi umpan kaum
kapitalis. Mereka belum mengenal sarekat kerja dan koperasi untuk memperkuat
kedudukan mereka.
3. Penghasilan
rakyat masih diperkecil oleh system voorschot (uang muka)
4. Kepada
rakyat Jawa dipikulkan the burden of empire (pajak /beban
kerajaan). Sebagai akibat politik tidak campur tangan Belanda terhadap daerah
luar jawa, pulau Jawa harus membiayai ongkos – ongkos pemerintahan gubernmen
diseluruh Indonesia.
5. Keuntungan
mengalir di negeri Belanda, pemerintah juga tidak menarik pajak dari keuntungan
– keuntungan yang didapat para pengusaha kapaitalis. Pemerintah menganut system
pajak regresif, yang sangat memberatkan golongan berpendapatan
rendah.
6. Meskipun
system tanam paksa telah dihapuskan tetapi politik batig – slot belum
ditinggalkan.
7. Krisis
tahun 1885 mengakibatkan terjadinya pinciutan dalamkegiatan pengusaha –
pengusaha perkebunan gula, yang berarti menurunnya upah kerja sewa tanah bagi
penduduk. Krisis ini diperberat dengan timbulnya penyakit sereh pada
tanaman tebu, sehingga akhirnya pulau Jawa dalam waktu lama dijauhi oleh kaum
kapitalis Belanda.
F. Masa
Pendudukan Jepang
Pendudukan Jepang di Indonesia dengan berlangsungnya perang Dunia kedua di
kawasan Asia Pasifik, (1941-1945) Jepang berambisi untuk menguasai
negara-negara Asia dan merebutnya dari negara-negara imperalis barat. Tujuannya
selain untuk kepentingan supremasi (keunggulan dan kekuasaan) Jepang juga
menjadikan daerah-daerah di asia sebagai tempat menanamkan modal, serta
memasarkan hasil industrinya. Sejak awal abad 20 Jepang telah menjadi negara
industri dan mulai melaksanakan imperialisme modern saat itu Jepang berhasil
menduduki korea dan cina. Negara raksasa cina didudukinya pada tahun 1937.
Ketika Jepang menduduki indocina, pada juli 1941 AS tidak menyetujui tindakan tersebut. Tindakan protes AS dilakukan dengan menghentikan penjualan karet, baja lemepngan, minyak bumi dan lain-lain yang sangat dibutuhkan jepang. Jepang memutuskan untuk menyerang daerah-daerah koloni eropa di Asia Tenggara tujuannya untuk memperoleh barang-barang kebutuhan perang. Dengan itu Jepang yakin bahwa serangan tersebut menimbulkan perang dengan as. Jepang mendahului serangan terhadap pearl habour, hawaii. Pada 7-12-1941. setelah menghancurkan pearl harbour, Jepang meneruskan serangan ke filifina pada 10 Desember 1941 dan berhasil menduduki luzon dan batoon, lalu pada tanggal 16 Desember berhasil menduduki burma. Akhirnya pada 11 januari Jepang mendarat di Indonesia yaitu dirasakan kalimantan timur dan berhasil menduduki pulau kalimantan. Dari kalimantan Jepang meneruskan serangannya ke jawa sebagai pusat bertahan belanda, dan mulai menduduki daerah-daerah lainnya.
Ketika Jepang menduduki indocina, pada juli 1941 AS tidak menyetujui tindakan tersebut. Tindakan protes AS dilakukan dengan menghentikan penjualan karet, baja lemepngan, minyak bumi dan lain-lain yang sangat dibutuhkan jepang. Jepang memutuskan untuk menyerang daerah-daerah koloni eropa di Asia Tenggara tujuannya untuk memperoleh barang-barang kebutuhan perang. Dengan itu Jepang yakin bahwa serangan tersebut menimbulkan perang dengan as. Jepang mendahului serangan terhadap pearl habour, hawaii. Pada 7-12-1941. setelah menghancurkan pearl harbour, Jepang meneruskan serangan ke filifina pada 10 Desember 1941 dan berhasil menduduki luzon dan batoon, lalu pada tanggal 16 Desember berhasil menduduki burma. Akhirnya pada 11 januari Jepang mendarat di Indonesia yaitu dirasakan kalimantan timur dan berhasil menduduki pulau kalimantan. Dari kalimantan Jepang meneruskan serangannya ke jawa sebagai pusat bertahan belanda, dan mulai menduduki daerah-daerah lainnya.
1. AWAL KEDATANGAN
DAN MASA PENDUDUKAN JEPANG DI
INDONESIA
Awal kedatangan Pendudukan Jepang di Indonesia di kota Tarakan pada 10 januari 1942, selanjutnya Jepang melebarkan sayapnya hingga ke Minahasa, Balikpapan, Ambon, Pontianak, Makassar, Banjarmasin, Palembang dan Bali yang berhasil dikuasai Jepang dari kurang waktu Jan- Feb 1942, sedangkan ibukota Jakarta di duduki pada tanggal 05 Maret 1942. Tentara Belanda yang pada saat itu masih berkuasan di Indonesia ke, kesalahan menghadapi serangan tentara Jepang, dan akhirnya Belanda menyerah tanpa syarat pada Jepang tepatnya pada tanggal 08 Maret 1942 di Kalijati-Subang.
PEMBAGIAN 3 WILAYAH INDONESIA OLEH JEPANG
Masa pendudukan Jepang di Indonesia berbeda dengan masa penjajahan Belanda pada penjajahan Belanda pemerintah di pegang oleh pemerintah sipil sedangkan massa pendudukan Jepang di pimpin oleh militer dalam menjalankan pemerintahannya di Indonesia di bagi dalam 3 wilayah kekuasaan militer yaitu sebagai berikut :
INDONESIA
Awal kedatangan Pendudukan Jepang di Indonesia di kota Tarakan pada 10 januari 1942, selanjutnya Jepang melebarkan sayapnya hingga ke Minahasa, Balikpapan, Ambon, Pontianak, Makassar, Banjarmasin, Palembang dan Bali yang berhasil dikuasai Jepang dari kurang waktu Jan- Feb 1942, sedangkan ibukota Jakarta di duduki pada tanggal 05 Maret 1942. Tentara Belanda yang pada saat itu masih berkuasan di Indonesia ke, kesalahan menghadapi serangan tentara Jepang, dan akhirnya Belanda menyerah tanpa syarat pada Jepang tepatnya pada tanggal 08 Maret 1942 di Kalijati-Subang.
PEMBAGIAN 3 WILAYAH INDONESIA OLEH JEPANG
Masa pendudukan Jepang di Indonesia berbeda dengan masa penjajahan Belanda pada penjajahan Belanda pemerintah di pegang oleh pemerintah sipil sedangkan massa pendudukan Jepang di pimpin oleh militer dalam menjalankan pemerintahannya di Indonesia di bagi dalam 3 wilayah kekuasaan militer yaitu sebagai berikut :
a. Wilayah I,
meliputi P. Jawa dan Madura dengan pusat komando pertahanan di Batavia dipimpin
oleh ke-16 AD
b. Wilayah II,
meliputi P. Sumatera dan Kepulauan di sekitarnya dengan pusat komando
pertahanan di bukit tinggi dipimpin oleh tentara ke-25 AD.
c. Wilayah III,
meliputi p. Kalimantan, sulawesi, sulawesi, maluku, bali dan nusa tenggara
dengan pusat komando pertahanan di makasar dipimpin oleh Armada Selatan ke-2 Al
di Makassar.
UPAYA JEPANG YANG MELIBATKAN RAKYAT INDONESIA
Jepang yang menanamkan bangsa dan negerinya Nippon berusaha mengarahkan semua di Indonesia untuk mendukung dalam perang melawan sekutu, selain itu Jepang berupaya untuk mempertahankan wilayah Indonesia dari ancaman sekutu dengan cara melibatkan rakyat Indonesia dalam beberapa organisasi antara lain :
Jepang yang menanamkan bangsa dan negerinya Nippon berusaha mengarahkan semua di Indonesia untuk mendukung dalam perang melawan sekutu, selain itu Jepang berupaya untuk mempertahankan wilayah Indonesia dari ancaman sekutu dengan cara melibatkan rakyat Indonesia dalam beberapa organisasi antara lain :
a. Gerakan Tiga A
Dibentuk pada tanggal 29 April 1942 yang diketuai oleh Mr. Syamsudin latar
belakang pendirian gerakan tiga A adalah membantu Jepang dalam menghadapi
sekutu.
– Nippon Cahaya Asia
– Nippon Pelindung Asia
– Nippon Pemimpin Asia
– Nippon Cahaya Asia
– Nippon Pelindung Asia
– Nippon Pemimpin Asia
b. Pusat Tenaga
Rakyat (Putera) Dipimpin oleh empat serngkai, yakni Ir. Soekarno, Drs. Moh.
Hatta, ki Hadjar Dewantara dan K.H. Mas mansur. Dibentuk pada bulan agustus
1942 dan diresmikan pada tanggal 1 Maret 1943, tujuannya untuk Jepang ialah
untuk memusatkan seluruh kekuatan rakyat dalam rangka membantu usaha jepang.
c. Cholo Sangi In
(Badang Pertimbangan Pusat) Dibentuk tanggal 3 september 1943, diketuai
Jenderal Tojo (Perdana Menteri jepang), anggota berjumlah 43 orag, 23 orang
diangkat Jepang 18 orang utusan kresidenan dan kotapraja jakarta raya, dan 2
orang utusan di Yogyakarta dan surakarta.
d. Jawa Kokokai
Pada tahun 1944, panglima tentara Jepang yang menduduki jawa menyatakan
berdirinya organisasi “jawa hokokai’ atau Himpunan kebaktian Jawa, sebagai
organisasi resmi pemerintah. Tugas mengerahkan rakyat untuk mengumpulkan padi,
permata, besi tua, pajak, dan menanam tamanan jarak sebagai bahan baku minyak
pelumas untuk jepang.
EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM DAN TENAGA KERJA
INDONESIA OLEH JEPANG Pemerintah pendudukan Jepang merupakan pemerintahan
militer. Oleh karena itu, sesuai dengan keadaan perang pada saat itu, semua
jenis kegiatan diarahkan untuk kepentingan perang. Pemerintah pendudukan Jepang
telah melakukan eksploitasi secara besar-besaran terhadap sumber daya alam
Indonesia serta tenaga manusia yang ada demi memenangkan perang melawan sekutu.
1. Cara-cara
Jepang di Indonesia mengeksploitasi sumber kekayaan alam
a. Petani harus
menyerahkan hasil panen, ternak dan harta milik serta mereka yang lain kepada
pendudukan Jepang untuk biaya perang asia pasifik.
b. Hasil kekayaan
alam di Indonesia yang berupa hasil tambang perkebunan dan hutan di angkut ke
jepang.
c. Jepang memaksa
penduduk untuk menanam pohon jarak pada lahan pertanian.
2. Cara I Jepang
di indonesia mengeksploitasi tenaga kerja
a. Romusha, kerja
paksa tanpa upah.
b. Kinrohosi,
kerja paksa tanpa upah bagi tokoh masyarakat
c. Wajib Militer
1) Seinendan
(Barisan Pemuda) dibentuk tanggal 9 Maret 1943 bertugas sebagai tentara melawan
sekutu.
2) Keibodan
(Barisan pembantu polisi) dibentuk pada tanggal 29 April 1943 bertugas menjaga
keamanan desa.
3) Fujinkai
(Barisan wanita) dibentuk agustus 1943 bertugas sebagai anggota palang merah
dan sebagai wanita penghibur.
4) Jawa Hokokai
(Pehimpunan kebaktian Raya Jawa) dikebumikan 1 maret 1944.
5) Suishintai
(Barisan Pelopor)
6) Heiho (Pembantu
Prajurit Jepang)
7) Peta (Pembela
Tanah Air)
PERGERAKAN MASSA DAN PERLAWANAN TERHADAP
JEPANG
Ada dua strategi yang digunakan para pejuang Indonesia dalam menghadapi pemerintah penduduk Jepang, yakni :
Ada dua strategi yang digunakan para pejuang Indonesia dalam menghadapi pemerintah penduduk Jepang, yakni :
1. Kooperatif,
cara bekerja sama dengan Jepang, dengan mengikuti organisasi-organisasi Jepang.
Dengan demikian mereka mendapat pelajaran militer dari organisasi-organisasi
tersebut.
2. Non kooperatif penduduk strategi non kooperatif, tidak mau bekerjasama dengan Jepang mereka membentuk organisasi, antara lain :
2. Non kooperatif penduduk strategi non kooperatif, tidak mau bekerjasama dengan Jepang mereka membentuk organisasi, antara lain :
a. Kelompok
Syahrir, beranggotakan kaum terpelajar di berbagai kota.
b. Kelompok Amir Syarifudin yang antifasis dan menolak bekerja sama dengan Jepang
c. Golongan Persatuan Mahasiswa yang sebagian besar anggotanya adalah mahasiswa kedokteran
d. Kelompok Sukarni, yang anggotanya antara lain Adam Malik, Pandu Wiguna, Chaerul Saleh dan Maruto Mitimiharjo
e. Golongan Kaigun, yang anggotanya bekerja pada angkatan laut Jepang
f. Pemuda Menteng, yang bermarkas di Gedung Menteng 31 Jakarta.
b. Kelompok Amir Syarifudin yang antifasis dan menolak bekerja sama dengan Jepang
c. Golongan Persatuan Mahasiswa yang sebagian besar anggotanya adalah mahasiswa kedokteran
d. Kelompok Sukarni, yang anggotanya antara lain Adam Malik, Pandu Wiguna, Chaerul Saleh dan Maruto Mitimiharjo
e. Golongan Kaigun, yang anggotanya bekerja pada angkatan laut Jepang
f. Pemuda Menteng, yang bermarkas di Gedung Menteng 31 Jakarta.
Perlawanan
bersenjata yang dilakukan oleh rakyat Indonesia
1. Perlawanan rakyat Cot Plieng dekat Lhok Seumawe – Aceh Perlawanan ini terjadi pada tanggal 10 November 1942 Tengku Abdul Jalil.
1. Perlawanan rakyat Cot Plieng dekat Lhok Seumawe – Aceh Perlawanan ini terjadi pada tanggal 10 November 1942 Tengku Abdul Jalil.
2. Pemberontakan
di Singaparna, Tasikmalaya pimpinan K.H. Zainal Mustafa, hari jum’at tanggal 25
Februari 1944.
3. Pemberontakan
rakyat dibiak
4. Pemberontakan
rakyat di indramayu
AKHIR KEKUASAAN
JEPANG DI INDONESIA Pada akhir tahun 1944, Jepang semakin terdesak,
beberapapusat pertahanan di Jepang termasuk kepulauan saipan jatuh ke tangan
Amerika Serikat. Terdesaknya pasukan Jepang diberbagai front menjadi berita
menggembirakan bagi bangsa Indonesia. Harapan bangsa Indonesia agar terjadi
perubahan sikap terhadap penguasa Jepang ternyata terwujud. Jepang semakin
terpuruk, semangat tempur tentara Jepang makin merosot dan persediaan senjata
dan amunisi terus berkurang dan banyak kapal perang yang hilang, keadaan
semakin diperburuk dengan perlawanan rakyat yang semakin menyala. Pada tanggal
17 Jui 1944, Jenderal Nideki Tojo diganti oleh Jenderal Koniaki Koiso. Pada
tanggal 7 september 1994 jenderal koiso memberikan janji kemerdekaan kepada
Indonesia dikemudian hari. Pada 1 Maret 1945, panglima Jepang letnan jenderal
kumakici horada mengumumkan pembentukan badan penyelidikan usaha-usaha
persiapan kemerdekan Indonesia (BPUPKI) Seiring berjalannya BPUPKI pada tanggal
6 Agustus 1945 kota Hirosima dibom atom oleh sekutu dan pada tanggal 7 Agustus
1945 dibubarkannya BPUPKI dan dibentuklah PPKI (Panitia persiapan kemerdekana
Indonesia). PPKI yang dipimpin oleh ir. Soekarno beserta Moh. Hatta dan Dr.
Rajiman Widyadiningrat berangkat ke dalat, vietnam pada 2 Agustus 1945
bertujuan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kemerdekaan Indonesia.
Bersamaan dengan itu ktoa nagasaki dibom atom oleh sekutu. Akhirnya pada
tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu dan berakhirnya juga masa
pendudukan Jepang di Indonesia.
DAMPAK PENDUDUKAN
JEPANG DI INDONESIA Pendudukan Jepang di Indonesia memberikan dampak positif
dan dampak negatif adapun dampak tersebut adalah sebagai berikut :
1. Dampak positif
a. Rakyat
Indonesia mempunyai rasa disiplin yang diterapkan Jepang
b. Rakyat
Indonesia dapat berorganisasi
2. Dampak Negatif
a. Bidang sosial
– Kondisi ekonomi
rakyat yang semakin menurun
– Kehidupan rakyat
Indonesia di pedesaan makin parah
b. Bidang ekonomi
– Perampasan
kekayaan rakyat
– Produksi
pertanian makin menurun
– Sandang pangan
sulit didapatkan
c. Bidang Politik
Tokoh-tokoh
pergerakan nasional ditindas karena tidak mau bekerja sama dengan jepang
G. Reaksi-Reaksi
Bangsa Indonesia Terhadap Kolonialisme
1.
Perlawanan Rakyat Maluku di Bawah Ahmad Matullesi (1817)
Sejak abad ke-17 perlawanan rakyat Maluku terhadap Kompeni sudah terjadi, namun perlawanan yang dahsyat baru muncul pada permulaan abad ke-19, di bawah pimpinan Ahmad Matulessi (lebih dikenal dengan nama Pattimura).
Sejak abad ke-17 perlawanan rakyat Maluku terhadap Kompeni sudah terjadi, namun perlawanan yang dahsyat baru muncul pada permulaan abad ke-19, di bawah pimpinan Ahmad Matulessi (lebih dikenal dengan nama Pattimura).
Latar belakang timbulnya perlawanan
Pattimura, di samping adanya tekanan-tekanan yang berat di bidang ekonomi sejak
kekuasaan VOC juga dikarenakan hal sebagai berikut.
a. , yakni adanya tindakan-tindakan
pemerintah Belanda yang memperberat kehidupan rakyat, seperti system penyerahan
secara paksa, kewajiban kerja blandong, penyerahan atap dan gaba-gaba,
penyerahan ikan asin, dendeng dan kopi. Selain itu, beredarnya uang kertas yang
menyebabkan rakyat Maluku tidak dapat menggunakannya untuk keperluan
sehari-hari karena belum terbiasa.
b. , yaitu adanya
pemecatan guru-guru sekolah akibat pengurangan sekolah dan gereja, serta
pengiriman orang-orang Maluku untuk dinas militer ke Batavia. Hal-hal tersebut
di atas merupakan tindakan penindasan pemerintah Belanda terhadap rakyat
Maluku. Oleh karena itu, rakyat Maluku bangkit dan berjuang melawan
imperialisme Belanda. Aksi perlawanan meletus pada tanggal 15 Mei 1817 dengan
menyerang Benteng Duurstede di Saparua. Setelah terjadi pertempuran sengit,
akhirnya Benteng Duurstede jatuh ke tangan rakyat Maluku di bawah pimpinan
Pattimura. Banyak korban di pihak Belanda termasuk Residen Belanda, Van den
Berg ikut terbunuh dalam pertempuran.
Kemenangan atas
pemerintah kolonial Belanda memperbesar semangat perlawanan rakyat sehingga
perlawanan meluas ke Ambon, Seram dan pulau-pulau lain. Di Hitu perlawanan
rakyat muncul pada permulaan bulan Juni 1817 di bawah pimpinan Ulupaha. Rakyat
Haruku di bawah pimpinan Kapten Lucas Selano, Aron dan Patti Saba. Situasi
pertempuran berbalik setelah datangnya bala bantuan dari Batavia di bawah
pimpinan Buyskes. Pasukan Belanda terus mengadakan penggempuran dan berhasil
menguasai kembali daerah-daerah Maluku. Perlawanan semakin mereda setelah
banyak para pemimpin tertawan, seperti Thomas Matulessi (Pattimura), Anthonie
Rhebok, Thomas Pattiweal, Lucas Latumahina, dan Johanes Matulessi. Dalam
perlawanan ini juga muncul tokoh wanita yakni Christina Martha Tiahahu. Sebagai
pahlawan rakyat yang tertindas oleh penjajah. Tepat pada tanggal 16 Desember
1817, Thomas Matulessi dan kawan-kawan seperjuangannya menjalani hukuman mati
di tiang gantungan.
2.Perlawanan Kaum
Paderi (1821–1838 )
Perang Paderi
melawan Belanda berlangsung 1821–1838, tetapi gerakan Paderi sendiri sudah ada
sejak awal abad ke-19. Di lihat dari sasarannya, gerakan Paderi dapat dibagi
menjadi dua periode.
a. Periode
1803–1821 adalah masa perang Paderi melawan Adat dengan corak keagamaan.
b. Periode 1821–1838 adalah masa perang
Paderi melawan Belanda dengan corak keaga-
maan dan patriotisme.
Sejak tahun 1821
saat kembalinya tiga orang haji dari Mekkah, yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik
dan Haji Piabang, gerakan Paderi melawan kaum Adat dimulai. Kaum Paderi
berkeinginan memperbaiki masyarakat Minangkabau dengan mengembalikan
kehidupannya yang sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Padahal kaum Adat
justru ingin melestarikan adat istiadat warisan leluhur mereka.
Adat yang selama itu dianut dan yang menjadi
sasaran gerakan Paderi adalah kebiasaan-kebiasaan buruk, seperti menyabung
ayam, berjudi, madat, dan minum-minuman keras. Terjadilan perbenturan antara
kaum Adat dengan kaum Paderi. Kaum Adat yang merasa terdesak, kemudian minta
bantuan kepada pihak ketiga, yang semula Inggris kemudian digantikan oleh
Belanda (berdasarkan Konvensi London).
Perang Paderi melawan Belanda meletus ketika
Belanda mengerahkan pasukannya menduduki Semawang pada tanggal 18 Februari
1821. Masa Perang Paderi melawan Belanda dapat dibagi menjadi tiga periode.
a. Periode
1821–1825, ditandai dengan meletusnya perlawanan di seluruh daerah Minangkabau.
Di bawah pimpinan Tuanku Pasaman, kaum Paderi menggempur pos-pos Belanda yang
ada di Semawang, Sulit Air, Sipinan, dan tempat-tempat lain. Pertempuran
menimbulkan banyak korban di kedua belah pihak. Tuanku Pasaman kemudian
mengundurkan diri ke daerah Lintau. Sebaliknya, Belanda yang telah berhasil
menguasai Lembah Tanah Datar, kemudian mendirikan benteng pertahanan di
Batusangkar (Fort Van den Capellen).
b. Periode
1825–1830, ditandai dengan meredanya pertempuran. Kaum Paderi perlu menyusun
kekuatan, sedangkan pihak Belanda baru memusatkan perhatiannya menghadapi
perlawanan Diponegoro di Jawa.
c. Periode
1830–1838, ditandai dengan perlawanan di kedua belah yang makin menghebat.
Pemimpin di pihak Belanda, antara lain Letkol A.F. Raaff, Kolonel de Stuer,
Mac. Gillavry dan Elout, sedangkan di pihak Paderi ialah Tuanku Imam Bonjol,
Tuanku Nan Renceh, Tuanku nan Gapuk, Tuanku Hitam, Tuanku Nan Cerdik dan Tuanku
Tambusi.
Pada tahun 1833, Belanda mengeluarkan Pelakat
Panjang yang isinya, antara lain sebagai berikut.
a.Penduduk
dibebaskan dari pembayaran pajak yang berat dan kerja rodi.
b.Belanda akan bertindak sebagai penengah
jika terjadi perselisihan antar penduduk.
c.Penduduk boleh mengatur pemerintahan
sendiri.
d.Hubungan dagang hanya diperbolehkan dengan
Belanda.
Belanda
menjalankan siasat pengepungan mulai masuk tahun 1837 terhadap Benteng Bonjol.
Akhirnya, Benteng Bonjol berhasil dilumpuhkan oleh Belanda. Selanjutnya,
Belanda mengajak berunding kaum Paderi yang berujung pada penangkapan Tuanku
Imam Bonjol (25 Oktober 1837). Setelah ditahan, Tuanku Imam Bonjol dibuang ke
Cianjur, dipindahkan ke Ambon (1839), dan tahun 1841 dipindahkan ke Manado
hingga wafat tanggal 6 November 1864.Perlawanan kaum Paderi kemudian
dilanjutkan oleh Tuanku Tambusi. Setelah Imam Bonjol tertangkap, akhirnya
seluruh Sumatra Barat jatuh ke tangan Belanda. Itu berarti seluruh perlawanan
dari kaum Paderi berhasil dipatahkan oleh Belanda.
3.Perlawanan Pangeran Diponegoro (1825–1830)
Pengaruh Belanda
di Surakarta dan Yogyakarta semakin bertambah kuat pada permulaan abad ke-19.
Khususnya di Yogyakarta, campur tangan Belanda telah menimbulkan kekecewaan di
kalangan kerabat keraton yang kemudian menimbulkan perlawanan di bawah pimpinan
Pangeran Diponegoro. Sebab-sebab perlawanan Diponegoro, antara lain sebagai
berikut.
a.Adanya kekecewaan
dan kebencian kerabat istana terhadap tindakan Belanda yang makin intensif
mencampuri urusan keraton melalui Patih Danurejo (kaki tangan Belanda).
b.Adanya kebencian rakyat pada umumnya dan
para petani khususnya akibat tekanan pajak yang sangat memberatkan.
c.Adanya
kekecewaan di kalangan para bangsawan, karena hak-haknya banyak yang dikurangi.
d.Sebagai sebab khususnya ialah adanya
pembuatan jalan oleh Belanda melewati makam leluhur Pangeran Diponegoro di
Tegalrejo.
Pertempuran
perrtama meletus pada tanggal 20 Juli 1825 di Tegalrejo. Setelah pertempuran di
Tegalrejo, Pangeran Diponegoro dan pasukannya menyingkir ke Dekso. Di daerah
Plered, pasukan Diponegoro dipimpin oleh Kertapengalasan yang memiliki
kemampuan yang cukup kuat. Kabar mengenai pecahnya perang melawan Belanda
segera meluas ke berbagai daerah. Dengan dikumandangkannya perang sabil, di
Surakarta oleh Kiai Mojo, di Kedu oleh Kiai Hasan Besari, dan di daerah-daerah
lain maka pada pertempuran-pertempuran tahun 1825–1826 pasukan Belanda banyak terpukul
dan terdesak.
Melihat kenyatan ini, kemudian Belanda
menggunakan usaha dan tipu daya untuk mematahkan perlawanan, antara lain
sebagai berikut.
a.Siasat benteng
stelsel, yang dilakukan oleh Jenderal de Kock mulai tahun 1827.
b.Siasat bujukan agar perlawanan menjadi
reda.
c.Siasat pemberian hadiah sebesar 20.000,-
ringgit kepada siapa saja yang dapat menang-
kap Pangeran Diponegoro.
d. Siasat tipu muslihat, yaitu ajakan
berunding dengan Pangeran Diponegoro dan akhirnya ditangkap.
Dengan berbagai
tipu daya, akhirnya satu per satu pemimpin perlawanan tertangkap dan menyerah,
antara lain Pangeran Suryamataram dan Ario Prangwadono (tertangkap 19 Januari
1827), Pangeran Serang, dan Notoprodjo (menyerah 21 Juni 1827, Pangeran
Mangkubumi (menyerah 27 September 1829), dan Alibasah Sentot Prawirodirdjo
(menyerah tanggal 24 Oktober 1829). Kesemuanya itu merupakan pukulan yang berat
bagi Pangeran Diponegoro.
Melihat situasi yang demikian, pihak Belanda
ingin menyelesaikan perang secara cepat. Jenderal de Kock melakukan tipu
muslihat dengan mengajak berunding Pangeran Diponegoro. De Kock berjanji
apabila perundingan gagal maka Diponegoro diperbolehkan kembali ke pertahanan.
Atas dasar janji tersebut, Diponegoro mau berunding di rumah Residen Kedu,
Magelang pada tanggal 28 Maret 1830. Namun, De Kock ingkar janji sehingga
Pangeran Diponegoro ditangkap ketika perundingan mengalami kegagalan. Pangeran
Diponegoro kemudian di bawa ke Batavia, dipindahkan ke Menado, dan pada tahun
1834 dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya pada tanggal 8 Januari 1855.
4. Perlawanan di Kalimantan Selatan
(1859–1905)
Di Kalimantan
Selatan, Belanda telah lama melakukan campur tangan dalam urusan Istana Banjar.
Puncak kebencian terhadap Belanda dan akhirnya meletus menjadi perlawanan, ketika
terjadi kericuan pergantian takhta Kerajaan Banjar setelah wafatnya Sultan Adam
tahun 1857. Dalam hal ini Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah sebagai
Sultan Banjar.
Rakyat tidak mau
menerima sebab Pangeran Hidayat yang lebih berhak dan lebih disenangi rakyat.
Pertempuran rakyat Banjar melawan Belanda berkobar pada tahun 1859 di bawah
pimpinan Pangeran Antasari. Dalam pertempuran ini Pangeran Hidayat berada di
pihak rakyat. Tokoh-tokoh lain dalam pertempuran ini, antara lain Kiai Demang
Leman, Haji Nasrun, Haji Buyasin, Tumenggung Suropati, dan Kiai Langlang.
Pasukan Antasari menyerbu pos-pos Belanda yang ada di Martapura dan Pangron
pada akhir April 1859. Di bawah pimpinan Kiai Demang Leman dan Haji Buyasin
pada bulan Agustus 1859 pasukan Banjar berhasil merebut benteng Belanda di
Tabanio. Ketika pertempuran sedang berlangsung, Belanda memecat Pangeran
Hidayat sebagai mangkubumi karena menolak untuk menghentikan perlawanan.
Pada tanggal 11
Juni 1860 jabatan sultan kosong (karena Sultan Tamjidillah diturunkan dari
takhtanya oleh pihak Belanda, Andresen) dan jabatan mang-kubumi dihapuskan.
Dengan demikian, Kerajaan Banjar dihapuskan dan dimasukkan dalam wilayah
kekuasaan Belanda. Pertempuran terus meluas ke berbagai daerah, seperti Tanah
Laut, Barito, Hulu Sungai Kapuas, dan Kahayan. Dalam menghadapi
serangan-serangan ini, Belanda mengalami kesulitan, namun setelah mendapatkan
bantuan dari luar akhirnya Belanda berhasil mematahkan perlawanan rakyat. Pada
tanggal 3 Februari 1862, Pangeran Hidayat tertangkap dan dibuang ke Jawa.
Pangeran Antasari yang pada tanggal 14 Maret 1862 diangkat oleh rakyat sebagai
pemimpin tertinggi agama Islam dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifahtul
Mukminin gugur dalam pertempuran di Hulu Teweh pada tanggal 11 Oktober 1862. Sepeninggal
Pangeran Antasari, perjuangan rakyat Banjar dilanjutkan oleh teman-teman
seperjuangan. Perlawanan rakyat benar-benar dapat dikatakan padam setelah
gugurnya Gusti Matseman tahun 1905.
Indonesia masa pergerakan nasional
Masa pergerakan nasional di Indonesia ditandai dengan
berdirinya organisasi-organisasi pergerakan. Masa pergerakan nasional (1908 -
1942), dibagi dalam tiga tahap berikut.
1.
Masa pembentukan (1908 - 1920) berdiri organisasi seperti
Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij.
2.
Masa radikal/nonkooperasi (1920 - 1930), berdiri organisasi
seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai
Nasional Indonesia (PNI).
3.
Masa moderat/kooperasi (1930 - 1942), berdiri organisasi
seperti Parindra, Partindo, dan Gapi. Di samping itu juga berdiri organisasi
keagamaan, organisasi pemuda, dan organisasi perempuan.
Masa pembentukan (
1908 – 1920 )
a. Budi
Utomo
Budi Utomo berdiri atas prakarsa dari Dokter Wahidin
Sudirohusodo yang berpendapat bahwa untuk mewujudkan masyarakat yang maju
pendidikan harus diperluas. Gagasan Dokter Wahidin Sudirohusodo ini pun
mendapat dukungan dari masyarakat luas. Pada akhir tahun 1907 Dr. Wahidin
Sudirohusodo berpidato menyampaikan gagasan ini di depan mahasiswa Stovia
(Sekolah Dokter Pribumi) di Jakarta. Pidato Dr. Wahidin Sudirohusodo mendapat
tanggapan positif dari mahasiswa Stovia. Kemudian Sutomo seorang mahasiswa
Stovia segera mengadakan pertemuan dengan teman-temannya guna membicarakan
usaha memperbaiki nasib bangsa. Pada hari Minggu tanggal 20 Mei 1908, Sutomo
beserta kawan-kawannya berkumpul di Jakarta dan sepakat mendirikan Budi Utomo
yang berarti “usaha mulia”. Tujuan Budi Utomo adalah mencapai kemajuan dan
meningkatkan derajat bangsa melalui pendidikan dan kebudayaan.
Kongres Budi Utomo yang pertama berlangsung di Yogyakarta
pada tanggal 3 Oktober – 5 Oktober 1908. Dalam kongres yang pertama berhasil
diputuskan beberapa hal berikut.
·
Membatasi jangkauan geraknya kepada penduduk Jawa dan Madura.
·
Tidak melibatkan diri dalam politik.
·
Bidang kegiatan adalah bidang pendidikan dan budaya.
·
Menyusun pengurus besar organisasi yang diketuai oleh R.T.
Tirtokusumo.
·
Merumuskan tujuan utama Budi Utomo yaitu kemajuan yang
selaras untuk negara dan bangsa.
Budi Utomo merupakan
pelopor organisasi moderen. Organissi ini menjadi model bagi gerakan
berikutnya. Walaupun ruang lingkup kegiatan Budi Utomo terbatas pada golongan
terpelajar dan wilayahnya meliputi Jawa, Madura dan Bali, akan tetapi Budi
Utomo menjadi tonggak awal kebangkitan nasional. Karena itu, oleh Bangsa
Indonesia, kelahiran Budi Utomo diperingati
sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan
Presiden Republik Indonesia, Nomor 31, tanggal 16 Desember 1959.
2.
Sarekat Islam (SI)
Pada mulanya Sarekat Islam adalah sebuah perkumpulan para
pedagang yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Pada tahun 1911, SDI
didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi sebagai suatu koperasi pedagang batik
Jawa. Garis yang diambil oleh SDI adalah kooperasi, dengan tujuan memajukan
perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam. Keanggotaan SDI masih
terbatas pada ruang lingkup pedagang, maka tidak memiliki anggota yang cukup
banyak. Oleh karena itu agar memiliki anggota yang banyak dan luas ruang
lingkupnya, maka pada tanggal 18 September 1912, SDI diubah menjadi SI (Sarekat
Islam). Organisasi Sarekat Islam (SI) didirikan oleh beberapa tokoh SDI seperti
H.O.S Cokroaminoto, Abdul Muis, dan H. Agus Salim. Sarekat Islam berkembang
pesat karena bermotivasi agama Islam.
Latar belakang ekonomi berdirinya Sarekat Islam adalah:
·
perlawanan terhadap para pedagang perantara (penyalur) oleh
orang Cina,
·
isyarat pada umat Islam bahwa telah tiba waktunya untuk
menunjukkan kekuatannya, dan
·
membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi
putera.
Tujuan yang ingin
dicapai sesuai dengan anggaran dasarnya adalah:
·
mengembangkan jiwa berdagang,
·
memberi bantuan kepada anggotanya yang mengalami kesukaran,
·
memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat naiknya
derajat bumi putera,
·
menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam,
·
tidak bergerak dalam bidang politik, dan
·
menggalang persatuan umat Islam hingga saling tolong
menolong.
3. Indische Partij
(IP)
IP didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung oleh
tokoh Tiga Serangkai, yaitu E.F.E Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan
Suwardi Suryaningrat. Indische Partij merupakan satu-satunya organisasi
pergerakan yang secara terang-terangan bergerak di bidang politik dan ingin
mencapai Indonesia merdeka. Tujuan Indische Partij adalah untuk membangunkan
patriotisme semua indiers terhadap tanah air. IP menggunakan media majalah Het
Tijdschrifc dan surat kabar ‘De Expres’ pimpinan E.F.E Douwes Dekker sebagai
sarana untuk membangkitkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air Indonesia.
Tujuan dari partai ini benar-benar revolusioner karena mau mendobrak kenyataan
politik rasial yang dilakukan pemerintah kolonial. Tindakan ini terlihat nyata
pada tahun 1913. Saat itu pemerintah Belanda akan mengadakan peringatan 100
tahun bebasnya Belanda dari tangan Napoleon Bonaparte (Prancis). Perayaan ini
direncanakan diperingati juga oleh pemerintah Hindia Belanda. Adalah suatu yang
kurang pas di mana suatu negara penjajah melakukan upacara peringatan
pembebasan dari penjajah pada suatu bangsa yang dia sebagai penjajahnya. Hal
yang ironis ini mendatangkan cemoohan termasuk dari para pemimpin Indische
Partij. R.M. Suwardi Suryaningrat menulis artikel bernada sarkastis yang
berjudul ‘Als ik een Nederlander was’, Andaikan aku seorang Belanda. Akibat dari
tulisan itu R.M. Suwardi Suryaningrat ditangkap oleh Belanda.
Persiapan
Proklamasi
A. PEMBENTUKAN
BPUPKI DAN PPKI
1. Janji
Perdana Menteri Kuniaki Koiso
Pada tahun 1944, jepang
makin terjepit oleh sekutu dalam perang dunia ii. Beberapa wilayah yang dulu
pernah yang dulu pernah dikuasai jepang telah jatuh ke tangan sekutu. Kondisi
tersebut semakin diperparah dengan mundurnya moral masyarakat jepang, produksi
peralatan perang merosot, dan permasalahan dalam bidang logistik. Kondisi
tersebut sangat memukul jepang. Oleh karena itu, perlu diupayakan berbagai cara
agar memulihkan kondisi tersebut. Satu-satunya harapan bagi jepang adalah
indonesia.
Untuk menarik hati bangsa
indonesia, maka pada tanggal 7 September 1944 dalam sidang parlemen jepang,
perdana menteri kuniaki koiso mengumumkan bahwa daerah hindia timur (indonesia)
diperkenankan merdeka “kelak dikemudian hari”. Pengumuman tersebut disambut
gembira oleh bangsa indonesia.
2. Pembentukakan
BPUPKI
Setelah jepang memberikan
janji kemerdekaan dikemudian hari kepada bangsa indonesia, para pemimpin
pergerakan kemerdekaan Indonesia segera menuntut janji tersebut untuk
diwujudkan. Akibat desakan para pemimpin pergerakan kemerdekaan indonesia dan
kedudukan jepang yang semakin terdesak, maka letnan jenderal kumakici harada
(pimpinan tentara jepang dijawa) pada tanggal 1 Maret 1945 mengumumkan
pembentukan badan penyelidik usaha-usaha persiapan kemerdekaan indonesia (Dokuritsu
Junbi Cosakai), Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat ditunjuk sebagai ketua
BPUPKI dan R.P. Suroso sebagai wakil ketua.
Setelah susunan pengurus
bpupki terbentuk, pada tanggal 28 Mei 1945 diresmikan oleh pemerintah bala
tentara Jepang, sekaligus dilangsungkan upacara persiapan BPUPKI di gedung Cuo
Sangi In, jalan Pejambon Jakarta (Sekarang Gedung Departemen Luar Negeri).
Pada waktu itu dilakukan
upacara pengibaran bendera Hinomaru oleh M.R. A.R.
Pringgodigdo yang kemudian disusul pengibaran bendera sang saka merah putih
oleh Toyohiko Masuda. Perestiwa tersebut membangkitkan semangat
para anggota BPUPKI dalam uasahanya mempersiapkan kemerdekaan indonesia. Selain
membangkitkan semangat anggota bpupki, juga menggugah semangat Bangsa Indonesia
untuk berjuang memperoleh kemerdekaan.
Dalam perjalanan BPUPKI menyelenggarakan dua
kali sidang.
a. Sidang
pertama BPUPKI (29 Mei 1945-1 Juni 1945)
Dalam sidang pertama
membahas tentang dasar negara. Ketua BPUPKI Dr. Radjiman
Wedyodiningrat dalam pembukaannya meminta pandangan dari anggota mengenai
dasar Negara Indonesia.
Sidang ini menekankan bahwa
sesuatu yang akan dijadikan dasar negara hendaknya dicari dan digali dari
nilai-nilai yang sudah berakar kuat dari hati dan pikiran rakyat. Selain itu
agar dapat diterima secara bulat dan diduking oleh seluruh lapisan masyarakat.
Beberapa tokoh yang mengajukan konsep tentang dasar negara adalah Mr. Mohamad
Yamin, Mr. Supomo, dan Ir. Soekarno.
Dalam pidatonya , Ir.
Soekarno juga memberi usul nama dasar Indonesia merdeka, yaitu Pancasila,
Trisila, Dan Ekasila. Dalam rapat 1 Juni 1945, nama yang dipilih untuk dasar
Negara Indonesia adalah Pancasila. Oleh karena itu, tanggal 1 Juni 1945
diperingati sebagai hari lahirnya pancasila. Dengan berakhirnya rapat pada
tanggal 1 juni 1945, maka selesailah pelaksanaan persidangan pertama BPUPKI.
Dalam pertemuan ini pula
dibentuk lagi panitia kecil yang beranggotakan sembilan orang sehingga disebut
panitia sembilan. Ketua panitia sembilan adalah Ir. Soekarno, dengan anggotanya
Drs. Mohamad Hatta, Mr. Muhamad Yamin., Mr. Ahmad Soebardjo, Mr. A.A Maramis,
Abdulkadir Muzakir, Wachid Hasim, H. Agus Salim, dan Abikusno Tjokrosujoso.
Tugas panitia sembilan adalah menyusun rencana pembukaan undang-undang dasar.
Dalam persidangan yang
dilakukan panitia sembilan menghasilakn rumusan yang menggambarkan maksud dan
tujuan pembentukan negara indonesia merdeka. Rumusan dasar negara yang
dihasilkan oleh panitia sembialan adalah sebagai berikut:
1. Ketuhanan
dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemelik-pemeluknya.
2. (Menurut)
dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan
Indonesia.
4. (Dan) kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
5. (serta
mewujudkan sesuatu) keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.
Dengan berhasilnya
merumuskan calon dasar negara tersebut, maka tugas panitia sembilan selesai
pada tanggal 22 Juni 1945. Rumusan dasar negara oleh panitia sembilan oleh mr.
Muhamad yamin disebut “Piagam Jakarta” atau “Jakarta Charter”.
Rancangan itu diterima secara bulat dan sepakat untuk dimatangkan dalam sidang
kedua bpupki mulai tanggal 10 juli 1945.
b. Persidangan
Kedua BPUPKI (10 Juli 1945-16 Juli 1945)
Sidang BPUPKI memiliki
agenda khusus yaitu memepersiapkan rancangan Undang-Undang Dasar, termasuk juga
pembukuannya. Sebelum BPUPKI mulai sidang yang kedua, bangsa Indonesia telah
memiliki rancangan undang-undang dasar yang telah disusun oleh panitia sembilan
yang dikenal dengan istilah “Piagam Jakarta” atau Jakarta
Charter”. Dalam sidang ini dibentuk panitia perancang undang-undang dasar,
yang pada akhirnya bersepakat bahwa preambule atau pembukaan diambil dari
piagam jakarta.
Dalam persidangan BPUPKI
yang kedua (10 Juli 1945 – 16 Juli 1945) yang membahas undang-undang dasar
menetapkan bahwa bentuk Negara Indonesia adalah Republik dan wilayah Indonesia
yakni seluruh wilayah Kepulauan Indonesia yang semula wilayah kekuasaan hindia
belanda.
Sebelum sidang BPUPKI
berakhir, panitia perancang undang-undang dasar melaporkan hasil dari sidang
yaitu:
1. Pernyataan
Indonesia merdeka.
2. Pembukaan
Undang-Undang Dasar.
3. Undang-Undang
Dasar itu sendiri dan batang tubuh.
Dengan keberhasilan panitia
perancang undang-undang menyusun rancangan undang-undang dasar, maka tugas
bpupki dinyatakan telah selesai dan dibubarkan.
c. Pembentukan
PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia)
Pada tanggal 6 Agustus 1945
Hiroshima dibom atom oleh Amerika Serikat yang tergabung dalam pasukan sekutu.
Bayangan kekalahan makin menghantu para pemimpin Jepang. Dalam keadaan
semacam itu, Jepang seakan akan hendak mewujudkan janjinya kepada bangsa
Indonesia untuk merdeka. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Agustus
1945 diumumkan pembentukan panitia persiapan
kemerdekaan indonesia (PPKI) atau Docuritsu Jumbi Inkai. PPKI
dibentuk oleh Jepang dengan anggota berjumlah 21 orang.
Pada tanggal 9 Agustus
1945, Nagasaki juga dibom atom oleh pasukan Amerika Serikat. Akibat pengeboman
itu, jepang makin tidak berdaya. Oleh karena itu, jenderal besar Terauchi
selaku panglima tentara umum selatan, yang mengepalai semua tentara
Jepang di seluruh Kawasan Asia Tenggara, memanggil Ir. Soekarno, Drs.
Mohammad Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrat agar datang ke markas di Dalat
(Vietnam ).
Rombongan pemimpin
Indonesia berangkat ke Dalat, Vietnam pada tanggal 9 Agustus 1945. Mereka
melakukan pertemuan besar dengan Jenderal Terauchi pada tanggal 12 Agustus
1945. Dalam pertemuan tersebut, Jenderal Besar Terauchi menyatakan bahwa
pemerintah kemaharajaan jepang memutuskan akan memberikan kemerdekaan kepada
Indonesia. Kemerdekaan itu dapat diumumkan apabila segala persiapan sudah
selesai.
Pada pertemuan tanggal 12
Agustus 1945 kepada para pemimpin bangsa indonesia, Jenderal Besar Terauchi
menyampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. Pemerintahan
Jepang memutuskan memberikan kemerdekaan kepada Bangsa Indonesia.
2. Untuk
melaksanakan kemerdekaan dibentuk PPKI.
3. Pelaksanaan
kmerdekaan segera dilakukan setelah persiapan selesai dilakukan dan secara
berangsur-angsur dari pulau jawa disusul oleh pulau lainnya.
4. Wilayah
Indonesia akan meliputi seluruh bekas wilayah Hindia Belanda.
B. PERSIAPAN
PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI KEMERDEKAAN
1. Perbedaan
Pendapat Antara Golongan Tua Dan Golongan Muda
Akibat menyerahnya jepang
kepada sekutu Di Indonesia terjadi Vacum Of Power, artinya
tidak ada pemerintahan yang berkuasa. Kekosongan kekuasaan ini dimanfaatkan
sebaik-baiknya oleh bangsa indonesia untuk memproklamasikan kemerdekaannya.
Setelah mengetahui Jepang
menyerah kepada sekutu, para pemuda segera menemui Bung Karno dan Bung
Hatta Di Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta. Dalam peremuan itu Sutan
Sahrir sebagai juru bicara para pemuda meminta agar Bung Karno Dan Bung
Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada saat itu juga, lepas
dari campur tangan jepang. Namun Bung Karno tidak menyetujuai usul para pemuda
karena proklamsi kemerdekaan perlu dibicarakan terlebih dahulu dalam rapat
PPKI. Alasannya, badan inilah yang bertugas mempersiapakan kemerdekaan Indonesia.
Para pemuda menolak pendapat Bung Karno. Para pemuda berpendapat bahwa
menyatakan kemerdekaan melalui PPKI tentu akan dicap oleh sekutu bahwa
kemerdekaan Indonesia hanyalah pemberian jepang. Para pemuda tidak menginginkan
kemerdekaan Indonesia dianggap sebagai hadiah dari Jepang. Dengan demikian,
usaha para pemuda dengan juru bicara sutan syahrir untuk membujuk Ir. Soekarno
agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia mengalami kegagalan.
Karena belum berhasil
membujuk Bung Karno, maka pada tanggal. 15 Agustus 1945 pukul 22.00 WIB para
pemuda kembali mengadakan rapat Di Lembaga Bakteorologi Di Jalan Pegangsaan
Timur dengan dipimpin oleh Chaerul Shaleh. Keputusan rapat mengajukan tuntutan
radikalyang menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan persoalan
rakyat Indonesia sendiri dan tidak dapat digantungkan pada orang lain dan
kerajaan lain. Segala ikatan dan hubungan dengan janji kemerdekaan dari Jepang
harus diputuskan. Sebaliknya , diharapkan diadakan suatu perundingan dengan Ir.
Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta agar segera menyatakan proklamasi.
Hasil keputusan rapat
disampaikan kepada Bung Karno Dan Bung Hatta pada pukul 22.00 WIB oleh
Darwis dan Wikana. Wikana menghendaki agar proklamasi kemerdekaan Indonesia
dinyatakan oleh Bung Karno pada keesokan harinya tanggal 16 Agustus 1945.
Mereka mengancam akan terjadi pertumpahan darah bila keinginan itu tidak
dilaksanakan . mendengar ancaman itu Bung Karno marah. Bung Karno sebagai ketua
PPKI tidak dapat melepaskan tanggung jawabnya, sehingga bersikeras ingin
membicarakan terlebih dahulu dengan anggota PPKI lainya. Suasana tegang
anataraDarwis dan Wikana, dengan Bung Karno disaksikan oleh para tokoh
nasionalis golongan tua, seperti drs. Mohammad Hatta, Mr. Iwa Kusuma Sumantri,
AR. Buntaran, Dr. Samsi, dan Ahmad Soebardjo.
Tampak perbedaan pendapat
mengenai pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Golongan tua menghendaki
diadakan rapat PPKI terlebih dahulu. Sementara itu, golongan pemuda bersikeras
menyatakan bahwa proklamasi harus dilaksanakan pada tanggal 16 Agustus 1945.
2. Perumusan
Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Setelah melalui persestiwa
Rengasdengklok, akhirnya rombongan Soekarno Hatta sampai di Jakarta pada
pukul 23.30 waktu jawa zaman jepang (pukul 23.00 WIB). Soekarno-Hatta
setelah singgah dirumahnya masing-masing, kemudian bersama rombongan lainya
menuju rumah Laksamana Maeda untuk merumuskan teks proklamasi kemerdekaan
Indonesia. Laksaman Maeda adalah seorang kepala Perwakilan Angkatan Laut Jepang
di Jakarta tempat Ahmad Soebardjo bekerja sebagai stafnya.
Ahmad Soebardjo memohon
agar para tokoh pergerakan diperbolehkan berkumpul di rumah maeda untuk
membicarakan persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia besok
pagi. Laksamana Maeda mengijinkan dan menjamin keselamatan mereka di
rumahnya, Jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta
Pada malam itu,
Soekarno-Hatta juga menemui kepala pemerintahan umum (Sumobuco), Mayor
Jenderal Nishimurauntuk menjajaki sikapnya tentang rencana proklamasi
kemerdekaan Indonesia. Soekarno-Hatta ditemani oleh Laksamana Maeda bersama
Shigerada Nishijima, Tomegoro Yoshizumi, dan Miyoshi sebagai penerjemah.
Ternayat Nishimura tidak berani mengijinkan proklamasi kemerdekaan Indonesia,
karena takut disalahkan oleh sekutu. Dengan demikian proklamasi kemerdekaan
Indonesia memang harus dilakukan lepas dari pengaruh jepang.
Malam itu juga segera
dilakukan musyawarah. Tokoh-tokoh yang hadir saat itu Ir. Soekarno, Drs.
Mohhammad Hatta, Ahmad Soebardjo, dan anggota PPKI, dan para tokoh pemuda,
seperti, Sukarni, Sayuti Melik, B.M. Diah, dan Sudiro (Mbah). Mereka yang
mereumuskan teks proklamasi berada di ruang makan, yakni Ir. Soekarno, memegang
pena dan kertas, Drs. Mohammad Hatta dan Ahmaf Soebardjo menyampaikan kalimat
pertama yang berbunyi, kami bangsa indonesia dengan ini menyatakan
kemerdekaan indonesia, Mohammad Hatta kemudian menyempurnakan dengan
kalimat kedua yang berbunyi, hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan
dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang
sesingkat singkatnya.
Setelah konsep teks
proklamasi itu jadi, kemudian dibawa keruang depan tempat pemimpin Indonesia
lainya berkumpul untuk dimusyawarahkan. Saat itu muncul permasalahn siapa yang
akan menandatangani teks proklamasi. Chaerul Saleh menyatakan tidak setuju kalu
teks proklamasi itu ditandatangani oleh para anggota PPKI sebab lembaga itu
menurutnya merupakan bentukan pemerintahan Jepang. Sukarni kemudian mengusulkan
agar teks proklamasi di tandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta
atas nama Bangsa Indonesia, dan seluruh hadirin pun setuju.
Setelah itu konsep teks
proklamasi diserahkan kepada Sayuti Melik untuk diketi. Sebelum diketik
dilakukan sedikit perubahan yaitu pada kata “tempoh” menjadi “tempo”,
kalimat wakil wakil bangsa indonesia” diubah menjadi “atas nama
bangsa indonesia”. Penulisan tanggal diubah sehingga menjadi Djakarta, hari
17. Boelan 8 Tahoen 05. Tahun 05 adalah tahun Showa (Jepang),
yakni, 2605 yang sama dengan tahun Masehi 1945. Setelah selesai diketik,
barulah teks proklamasi ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta.
Naskah inilah yang dianggap sebagai naskah autentik.
Perumusan teks proklamasi
sampai dengan penandatanganan baru selesai pukul 04.00 WIB pagi hari, tanggal
17 Agustus 1945. Pada saat itu juga telah diputuskan bahwa teks proklamasi akan
dibacakan dihalaman rumah Ir. Soekarno Dijalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta pada
pagi hari pukul 10.00 WIB.
Teks proklamasi tersebut
walaupun isinya sangat singkat, mengandung makna yang sangat dalam karena
mengandung pernyataan Bangsa Indonesia untuk merdeka. Teks proklamasi akan
mengubah jalannya sejarah Bangsa Indonesia yang dahulu terjajah menjadi bangsa
yang merdeka.
Pada tanggal 17
Agustus malam hari juga telah berhasil membuat bendera merah putih yang
dikibarkan pada saat upacara proklamasi kemerdekaan bangsa
pada tanggal 17 Agustus 1945. Keberhasilan pembuatan bendera merah putih
tersebut atas jasa dari Ibu Fatmawati Soekarno.
Rangkuman
v Pada
tanggal 8 Maret 1942 belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang maka berakhirlah
kekuasaan Belanda Di Indonesia dan Indonesia dikuasai oleh Jepang.
v Kedatangan
jepang disambut gembira oleh rakyat Indonesia, sebab kedatangannya membawa
propaganda akan membebaskan bangsa Indonesia dari penindasan belanda. Namun,
ternyata hal tersebut hanya merupakan tipu muslihat belaka.
v Pada
tahun 1944, kedudukan Jepang makin terjepit oleh sekutu dalam perang dunia II,
sehingga perdana menteri Kuniaki Koiso mengumumkan bahwa daerah hindia timur
(indonesia) diperkenankan merdeka “kelak dikemudian hari”.
v Pada
tanggal 1 Maret 1945, diumumkan badan penyelidi usaha-usaha persiapan
kemerdekaan indonesia (docuritscu junbi cosakai) adapun Dr. K.R.T.
Radjiman Wedyodiningrat ditunjuk sebagai ketua BPUPKI dan R.P. Suroso sebagai
wakil ketua.
v Sidang
pertama BPUPKI (29 Mei 1945 – 1 Juni 1945) membahas tentang dasar negara.
Beberapa tokoh mengajukan tentang dasar negara, yaitu Mr. Muhamad Yamin, Mr.
Supomo, dan Ir. Soekarno. Dalam pidatonya Ir. Soekarno juga memberi usul
mengenai nama dasar negara dan diberi nama Pancasila.
v Panitia
sembilan berhasil merumuskan rancangan naskah pembukaan UUD 1945 yang dikenal
dengan nama piagam jakarta.
v Persidangan
kedua BPUPKI (10 Juli 1945 – 16 Juli 1945), menghasilkan,
1. Menyatakan
indonesia merdeka.
2. Pembukaan
undang-undang dasar.
3. Undang-undang
dasar (Batang Tubuh).
v Akibat
keadaan Jepang yang semakin terjepit, maka pada tanggal 7 Agustus 1945
diumumkan pembentukan panitia persiapan kemerdekaan indonesia (PPKI) atau docuritsu
jumbi inkai.
v Akibat
penyerahan jepang sekutu di Indonesia terjadi vacum of power, artinya
tidak ada pemerintah yang berkuasa. Kekosongan pemerintahan ini dimanfaatkan
sebaik-baiknya oleh bangsa indonesia untuk mempriklamasikan kemerdekaannya.
v Dalam
perumusan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia sedikit terjadi perbedaan
pendapat antara kelompok tua dan kelompok muda, sehingga terjadi perestiwa
Rengasdengklok.
v Setelah
terjadi kesepakatan antara kelompok tua dengan kelompok muda, maka
rancangan naskah proklamasi kemerdekaan dirumuskan di rumah Laksaman Maeda di
jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta, tanggal 16 Agustus (malam hari) dan baru
ditandatangani pada pukul 04.00. tanggal 17 agustus 1945 dan pada saat itu juga
telah diputuskan bahwa teks proklamasi akan dibacakan di halaman rumah Ir.
Soekarno di jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta padapagi hari pukul 10.00 wib.
Komentar
Posting Komentar